Tampilkan postingan dengan label Megawati. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Megawati. Tampilkan semua postingan

Senin, 02 Juni 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Prabowo Sudah Melupakan Dendamnya pada Megawati?


Seperti kita tahu, Prabowo adalah sosok yang dirugikan secara 'aneh' oleh Megawati. Faktanya, pada pilpres 2009 lalu, baik PDI-P maupun Gerindra sudah sepakat dengan perjanjian batu tulis di mana di situ disebutkan PDI-P akan mendukung pencapresan Prabowo di tahun 2014 ini. Namun sekarang PDI-P sudah resmi membatalkannya secara sepihak, tanpa alasan yang jelas.

Sebagai orang normal, tentu saja hal itu menimbulkan kekecewaan bagi Prabowo. Tapi sikapnya pada pengundian nomor urut kemarin sangat ksatria. Apakah yang dilakukan Prabowo? Mari kita tengok berita yang kami sadur dari Republika.co.id ini:

Salam Hormat Prabowo untuk Megawati
Oleh: Erik Purnama Putra

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Peristiwa bersejarah terjadi sebelum pengundian nomor urut pasangan peserta Pilpres 2014, dihelat di gedung KPU, Ahad (1/6) siang. Itu lantaran capres Koalisi Merah Putih, Prabowo Subianto berkesempatan bertemu dengan Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.
Pertemuan itu menjadi menarik lantaran keduanya sempat berseteru. Pasalnya, pembatalan sepihak Perjanjian Batutulis yang dibuat pada 2009 oleh PDIP membuat hubungan Prabowo dan Megawati renggang. 
Gara-gara itu, Mega dilaporkan sulit ditemui Prabowo yang ingin mengklarifikasi keputusan PDIP yang akhirnya memutuskan mengusung Jokowi sebagai capres. Padahal, salah satu isi perjanjian tersebut adalah PDIP mendukung pencapresan Prabowo di Pemilu 2014.
Seolah mengabaikan peristiwa sebelumnya, Prabowo dan Hatta yang hadir lebih lambat dibanding pasangan Jokowi-JK tidak canggung bertemu rivalnya. Malahan, mantan komandan jenderal Kopassus itu memberikan salam khusus kepada Mega.
Dengan gerakan khas seorang prajurit, Prabowo yang mengenakan peci hitam dan berbalut baju putih lengan panjang dengan celana warna krem membuat gerakan tegap. Di depan presiden RI keempat itu, mantan panglima Kostras itu memberi hormat, meski Mega tetap tidak beranjak duduk di kursi.
Dari foto yang beredar, Mega hanya menyunggingkan senyum belaka. Adapun, Ketua Umum Nasdem Surya Paloh dan Jokowi yang duduknya posisinya di samping kanan dan kiri Mega langsung berdiri. Keduanya seolah merespon hormat Prabowo.
Mega dan Prabowo memang pernah bahu-membahu di Pilpres 2009. Sayangnya, ketika itu mereka harus menerima kekalahan menghadapi pasangan SBY-Boediono. Kemudian, keduanya pecah kongsi di Pilpres 2014, dan kader kedua kubu terlibat pertarungan sengit.


Rabu, 28 Mei 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Blunder Megawati


Megawati sebagai sosok pemimpin wanita paling modern di Indonesia memang tidak perlu lagi diragukan kharismanya di hadapan pendukung PDIP. Namun bukan berarti dia adalah tokoh tanpa cela. Megawati sebagai seorang manusia yang pernyataannya sering sekali menjadi santapan publik harus mulai sadar, bahwa posisinya sebagai seorang pemimpin partai sangat riskan untuk melakukan blunder. Setidaknya hal itu terbukti pada kejadian kemarin saat dia mengeluarkan pernyataan kontroversi yang membuat nama Jokowi semakin tidak populer.

Apakah pernyataan Megawati itu? Mari kita saja berita yang dilansir oleh ANtaranews.com ini:

Pernyataan Megawati soal Jokowi dikritik

Oleh: Zul Sikumbang

Jakarta (ANTARA News) - Pernyataan Ketua Umum PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri yang menyebut Joko Widodo (Jokowi) tetap merupakan petugas partai jika terpilih menjadi Presiden RI menuai kritik.

Anggota DPR RI Taslim Chaniago menilai pernyataan tersebut menunjukkan bahwa Jokowi merupakan Presiden boneka Megawati.

"Kalau terpilih sebagai Presiden Jokowi hanya jadi boneka Megawati dan PDIP saja. Itu artinya apapun kebijakan Jokowi harus sesuai perintah Megawati. Jokowi tidak punya kewenangan saat memimpin negeri," kata Taslim di Jakarta, Rabu.

Taslim juga menilai, pernyataan Megawati tersebut menunjukkan dirinya belum legowo menunjuk Jokowi sebagai calon presiden PDIP.

"Sepertinya Megawati tidak pede (percaya diri) elektabilitasnya lebih rendah dibandingkan Jokowi. Saya menangkap, apa yang disampaikan Megawati itu membuktikan bahwa Megawati ingin menjadi presiden," ujarnya.

Padahal, lanjut Taslim, siapapun Presiden RI terpilih tidak boleh disetir oleh siapapun. Kalau terpilih jadi Presiden, Jokowi tidak boleh disetir oleh siapapun, temasuk partai yang mengusungnya.

Taslim mengingatkan, pengabdian pada negara jauh lebih penting dari pada pengabdian pada partai. "Megawati seharusnya belajar dari negarawan Inggris, Winston Churchill yang terkenal dengan prinsipnya, ketika pengabdian kepada negara dimulai, maka berakhirlah pengabdian kepada partai," tutupnya.

Sebelumnya Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri berpesan kepada bakal capres usungan partainya, Joko Widodo, untuk tak melupakan perannya sebagai kader.

"Saya pesan ke Pak Jokowi, sampeyan tak (saya) jadikan capres, tapi jangan lupa ingat capres-nya saja, Anda adalah petugas partai yang harus melaksanakan apa yang ditugaskan partai," ucap Mega dalam pidatonya saat deklarasi koalisi PDIP, Partai Nasdem, dan PKB di kantor DPP PDIP, Lenteng Agung, Jakarta, Rabu (14/5).

Rabu, 08 Januari 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Wejangan Mega untuk Indonesia


Megawati adalah salah satu tokoh reformasi. Keberaniannya menentang Soeharto pada masa dulu, membuat dia sampai sekarang masih menjadi icon akan perjuangan. Mungkin karena itu pula lah, partainya, PDI-Perjuangan, selalu mendapatkan tempat khusus di masyarakat. Pasalnya, PDI-P seringkali dianggap sebagai partainya wong cilik.

Baik PDI-P maupun Mega, dipercaya akan memiliki peran penting dalam pemilihan presiden 2014 mendatang. Dan saat ini, Mega memberikan wejangan agar Indonesia bisa semakin baik ke depannya. Wejangan itu bisa anda baca di berita yang dilansir oleh Kompas.com ini.


Megawati: Kita Harus Koreksi Diri

Oleh: Indra Akuntono

AKARTA, KOMPAS.com - Peralihan masa kepemimpinan dari Orde Baru ke Era Reformasi belum mengarah pada hasil yang signifikan. Rute perjalanan bangsa seakan tanpa arah, dan membuat demokrasi seperti kebablasan.

Presiden ke-5 Republik Indonesia, Megawati Soekarnoputri, mengatakan, kondisi bangsa yang memprihatinkan membuat dirinya merasa perlu ada koreksi diri dari seluruh pihak. Hal ini perlu dilakukan untuk mengetahui, dan meresapi semua yang telah dilakukan untuk kemajuan bangsa dan negara.

"Makin banyak masalah bangsa ini, bukan hanya perlu kontemplasi, tapi koreksi diri," kata Megawati, di Jakarta, Senin (6/1/2014).

Saat memasuki ke Era Reformasi, kata Mega, semua pihak mengalami euforia yang luar biasa. Dampak negatifnya, seperti tak ada persiapan mengenai cara untuk mengisi era reformasi.

"Waktu itu nuansanya mengalami euforia (reformasi), jadi tak berupaya mendidik diri kita, sebenarnya apa sih yang kita inginkan," ujarnya.

Semua dianggapnya semakin parah ketika jejak sejarah Indonesia hilang dari benak para generasi muda. Mega mengaku terkejut ketika banyak anak muda yang tidak tahu, tidak mau tahu, atau tidak mendapat pelajaran baik mengenai sejarah bangsa Indonesia. Akhirnya, sangat jarang menemui anak muda yang mampu menjawab pertanyaan tentang sejarah bangsa secara runut dan berbobot.

Ketua Umum PDI Perjuangan itu menuturkan, masalah yang ia sebutkan adalah masalah serius dan membuatnya sangat merasa khawatir. Pasalnya, jejak sejarah itulah yang dianggapnya sebagai faktor penting dalam menentukan arah bangsa dan negara Indonesia di masa depan.

Kini, Megawati berharap semua pihak dapat kembali ikut andil mengarahkan kembali perjalanan bangsa sesuai dengan jejak yang diamanatkan para pendahulu. Karena tanpa mengikuti jejak, arah pembangunan bangsa akan menjadi tak terarah.

Senin, 06 Januari 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Terkait Jokowi, Megawati Terus Didorong


Elektabilitas Jokowi yang terus meroket, membuat banyak pihak berharap dia maju menjadi capres. Meskipun saat ini baru saja menjabat sebagai Gubernur DKI, tetap saja dukungan mengalir padanya. Dan tentu saja, hal itu berimbas pada dorongan yang kuat untuk Ibu Besar PDI-P: Megawati Soekarnoputri. Bagaimana kelanjutannya? Akankah Jokowi ikut bertanding di pemilihan presiden 2014? Sebelumnya, mari kita simak berita dari tempo.co ini.

Megawati Didorong Restui Jokowi Jadi Capres

Oleh: Ukky Primartyanto

TEMPO.CO, Surakarta - Ketua Umum Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Megawati Soekarnoputri diminta segera memberi restu ke Joko Widodo untuk mencalonkan diri sebagai calon presiden 2014. Sebab Gubernur Daerah Khusus Ibukota Jakarta yang akrab disapa Jokowi tersebut merajai berbagai hasil survei capres 2014.

Dorongan kepada Megawati agar segera merestui Jokowi diwujudkan lewat spanduk putih berukuran panjang 8 meter dan lebar 3 meter terpasang di jembatan penyeberangan Sriwedari, saat hari bebas kendaraan di Surakarta, Ahad, 5 Januari 2014 pagi.

Di bagian atas tertulis "Surat Cinta Untuk Megawati" dan bagian bawahnya "Capreskan Jokowi", beserta foto sang Gubernur DKI Jakarta.
Di sela tulisan dan foto Jokowi, terpasang kertas karton berbentuk hati berwana merah muda.

Penggagas dukungan, Mayor Haristanto mengatakan hasil survei menunjukkan Jokowi mendapat dukungan masyarakat untuk maju di pemilihan presiden 2014. "Hanya saja Jokowi seorang loyalis. Dia menunggu instruksi Megawati," ujarnya.

Karena itu saat ini bola berada di tangan Megawati. Dia meminta Megawati segera mendeklarasikan Jokowi sebagai capres dari PDI Perjuangan. "Ini tuntutan masyarakat. Kalau tidak sekarang jadi capres, kapan lagi," katanya.

Dia menyediakan 500 kertas karton berbentuk hati dalam berbagai ukuran. Masyarakat yang mendukung Jokowi sebagai capres 2014, diminta menempelkannya ke spanduk. Setelah itu, dia akan memotret spanduk tersebut dan mencetaknya. Hasil cetakan foto akan dikirim ke kantor DPP PDI Perjuangan.

Tapi seorang warga, Siti Marfuatin, 19 tahun, menilai belum saatnya Jokowi jadi capres di pilpres 2014. "Sebaiknya selesaikan dulu tugasnya sebagai Gubernur Jakarta," katanya. Dia mencela langkah Jokowi yang menjadi Gubernur Jakarta pada Oktober 2012 pada saat jabatannya sebagai Wali Kota Surakarta masih tersisa sekitar 2,5 tahun.

"Sekarang jadi Gubernur Jakarta belum genap 2 tahun, masak sudah jadi presiden? Lebih baik menunggu pilpres 2019," ujar mahasiswa Komunikasi Massa Politeknik Indonusa Surakarta ini.
0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Siapa Capres PDI-P?


PDI-P sebagai partai yang menjelang pemilu ini paling jarang terkait kasus korupsi, tentu menjadi favorit yang diunggulkan. Wajar saja, selain karena faktor sejarahnya yang kuat, hasil survey elektabilitasnya yang stabil di berbagai lembaga survey, ada juga faktor penting lainnya, yaitu tokohnya sedang naik daun. Ya, Jokowi yang merupakan kader PDI-P sedang berada di puncak popularitasnya sekarang. Bahkan, ada beberapa golongan yang menganggapnya sebagai Ratu Adil untuk Indonesia. Namun, masih ada satu misteri besar dari PDI-P yang akan selalu menyelimuti setiap warga negara ini, siapa capres yang akan diusung partai Banteng ini di pemilihan presiden 2014 mendatang? Ambisi besar Mega, membuat pertanyaan ini terus didengungkan oleh berbagai pihak. Dan akhirnya, janji dari PDI-P terkait isu ini keluar juga. Simak beritanya di berita satu ini.

PDI-P Putuskan Capres pada April 2014

Oleh: FEB

Semarang - Partai Demokrasi Indonesia (PDI) Perjuangan akan memutuskan nama bakal calon presiden dan kandidat wakil presiden pada April 2014 atau setelah Pemilihan Umum anggota Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), Dewan Perwakilan Daerah (DPD), dan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD).

"Kami akan memutuskan siapa yang diusung sebagai capres dan cawapres pada bulan April 2014 setelah pemilu anggota legislatif 9 April mendatang," kata Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan Tjahjo Kumolo, S.H. melalui pesan singkatnya kepada Antara di Semarang, Minggu (5/1).

Menurut Tjahjo, hal itu perlu disampaikan mencermati berbagai spekulasi yang berkembang di media bahwa PDI Perjuangan akan mendeklarasikan capresnya pada bulan Januari 2014 bersamaan dengan HUT PDI Perjuangan. Bahkan, dikabarkan pula sudah mengarah pada satu figur.

"Itu tidak benar," kata Tjahjo yang juga calon tetap anggota DPR RI periode 2014--2019 dari Daerah Pemilihan Jawa Tengah I (Kota/Kabupaten Semarang, Kota Salatiga, dan Kabupaten Kendal).
Tjahjo menegaskan kembali bahwa partainya, sebagaimana keputusan Rapat Kerja Nasional (Rakernas) I, menyerahkan keputusan tersebut kepada Ketua Umum DPP PDI Perjuangan Megawati Soekarnoputri.

"Kapan momentum yang tepat dideklarasikan? Dan siapa yang diputuskan untuk maju pada Pemilu Presiden dan Wakil Presiden mendatang? Semuanya Ibu Megawati yang memutuskannya," kata Tjahjo yang notabene anggota Komisi I DPR RI.

Selama belum ada keputusan mengenai capres dan cawapres atau dalam kurun waktu Januari hingga 9 April 2014, PDI Perjuangan akan terus-menerus mencermati perkembangan gelagat dinamika politik nasional maupun internasional.

"Ibu Megawati tetap akan cermat dan hati-hati," kata alumnus Fakultas Hukum Universitas Diponegoro (Undip) Semarang itu.

Kalau merujuk hasil berbagai lembaga survei, kata Tjahjo, muncul dua kader PDI Perjuangan dari lima tokoh partai lain sebagai capres.

Yang diapresiasi dan dinominasikan sebagai capres, yaitu Megawati Soekarnoputri dan Joko Widodo (Jokowi) yang sekarang ini Gubernur DKI Jakarta.

"Perlu kesabaran revolusioner dalam mengambil keputusan yang tepat untuk bangsa ini. Kita memilih Presiden RI dan memilih pemimpin nasional NKRI yang besar yang berdaulat perlu hati-hati dan perlu cermat. Demikian pula, PDI Perjuangan ingin ingin cermat. Kalau hanya memilih capres, mudah dan gampang," katanya.

Minggu, 22 Desember 2013

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Gerindra Yakin Kalahkan Megawati?


Gerindra sebagai peserta yang cukup diperhitungkan di pemilu 2014 mendatang, mengungkapkan keyakinannya bahwa Prabowo akan menang di Pemilihan Presiden 2014. Keyakinan itu dilandasi dengan isu bahwa Megawati akan mencalonkan dirinya sekali lagi sebagai presiden RI. Jadi, apakah Gerindra menganggap enteng Megawati? Entahlah. Yang jelas, silahkan simak berita lengkapnya yang dirilis oleh detiknews ini.

Mendengar Mega Nyapres Lagi, Gerindra Optimis Prabowo Menang

Oleh: Danu Damarjanti

Jakarta - Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri dikabarkan akan mencapres kembali pada Pemilu 2014. Menanggapi ini, Gerindra optimis capres mereka Prabowo Subianto bakal menang pilpres.

"Tentu kami punya optimisme menghadapi siapapun. Kami sangat yakin," kata Wakil Ketua Umum Gerindra Fadli Zon di Gedung BKKBN, Halim Perdanakusumah, Jakarta Timur, Jumat (20/12/2013).

Fadli menjelaskan, Prabowo memiliki karakter yang diharapkan rakyat. Yaitu berani, jujur, dan tegas. Dengan bekal itu, Gerindra yakin rakyat bakal memilih Prabowo.

Apalagi Prabowo juga tengah moncer di berbagai survei pencapresan, hanya kalah dengan Jokowi yang dikabarkan tak akan dicapreskan PDIP. Bukan hanya Prabowo, partainya-pun juga disebut Fadli tengah moncer di survei.

"Sekarang tren Gerindra terus naik. Kami melihat itu indikator. Tapi kami tak akan cepat berpuas diri," ujar Fadli.

Meski begitu, Fadli tak mau berkomentar banyak soal Megawati yang ingin mencapres lagi. Itu merupakan ranah PDIP. Terlepas dari hal tersebut, Gerindra siap menghadapi capres manapun, termasuk Megawati jika memang benar-benar menjadi capres lagi.

"Kami sih konsentrasi menghadapi siapapun harus siap. Karena ini kompetisi. Dan kita harus siap merebut kekuasaan secara damai dan konstitusional melalui Pemilu. Biar rakyat nanti yang akan menentukan," tandasnya.

Jumat, 20 Desember 2013

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

PDIP Masih Percaya pada Megawati


Meskipun sudah 3 kali kalah dalam pemilihan Presiden, PDIP masih percaya bahwa Megawati adalah simbol yang dapat membangun kembali Indonesia. Setidaknya, hal itu diungkapkan oleh ketua DPP PDIP. Meskipun angin berhembus ke arah Jokowi, kader PDIP yang sedang sangat naik daun akhir-akhir ini, tetap saja kubu PDIP bersikukuh akan memajukan Mega sebagai Capres. Benarkah Mega akan menjadi penyelamat bangsa Indonesia? Berita dari Republika On Line.

Megawati, Jawaban Tantangan Indonesia

Oleh: Muhammad Akbar Wijaya

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Ketua DPP PDI Perjuangan (PDIP), Effendi Simbolon percaya Megawati masih layak menjadi calon presiden (capres) Indonesia di Pemilu 2014.
Bagi Effendi sosok Megawati bakal mampu menjawab tantangan bangsa Indonesia baik di level nasional maupun global. "Beliau sangat cocok dengan kebutuhan Indonesia ke depan," kata Effendi kepada wartawan di Kompleks Parlemen Senayan, Kamis (19/12).

Effendi mengatakan Megawati memenuhi syarat untuk menjadi calon presiden. Dari sisi elektabilitas misalnya, ia melihat masih banyak rakyat yang menginginkan Megawati memimpin bangsa. Dari sisi kepemimpinan Megawati juga kaya akan pengalaman.
"Bagi kami elektabilitas beliau yang tertinggi. Kita tahu presiden tidak cuma butuh kecakapan akademis tapi juga kepemimpinan," ujarnya.

Terkait tingginya elektabilitas Jokowi, Effendi mengatakan partainya ikut bersyukur. Menurut dia Jokowi sebagai kader partai cukup memberi kontribusi saat menjabat wali kota Solo. Sayang, Effendi tidak menjawab peluang Jokowi bakal menjadi capres PDIP.
"Ketika di solo kontribusi baik, nilai yang baik, merepsonnya positif, melengkapi dari keberadaan partai," ujarnya.

Effendi mengatakan sampai sekarang partainya belum membahas format capres dan cawapres. Menurut dia persoalan itu merupakan kewenangan Megawati sebagai pemegang mandat kongres. "Bu Mega sudah bicara keputusan capres-cawapres setelah pileg," kata Effendi.

Kamis, 19 Desember 2013

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

PDIP Hentikan Isu Pencalonan Jokowi Sebagai Presiden


Dengan hasil survey yang terus menguat, Jokowi kini menjadi perbincangan utama perihal capres. Hal ini berimbas secara langsung ke kubu PDIP, partai yang menaungi Jokowi. Kuatnya isu pencapresan Jokowi ini bahkan sampai membuat suasana internal PDIP menjadi tidak harmonis, antara pendukung Megawati dan beberapa yang berharap Jokowi akan dicalonkan. Namun, kini fraksi sudah menginstruksikan secara jelas untuk menghentikan isu ini, dan kemudian memberikan wacana baru yang menarik: Menduetkan Mega dengan Jokowi. Bagaimana kelanjutannya? Kita tunggu saja, sementara itu, mari kita lihat cerita selengkapnya dari Detik news berikut.

Disemprit, Pendukung Pencapresan Jokowi Pun Tiarap

Oleh: Elvan Dani Sutrisno

Jakarta - Skenario duet Mega-Jokowi dugulirkan di internal PDIP. Skenario ini dibarengi instruksi agar elite PDIP tak lagi berspekulasi terkait pencapresan Jokowi di 2014. Pendukung pencapresan Jokowi pun tiarap.

Politikus senior PDIP Hendrawan Supratikno yang sempat menyuarakan kuatnya dukungan daerah ke pencapresan Jokowi tak lagi bicara lantang terkait hal ini. Padahal Hendrawan pernah mengungkap adanya 6 kandidatcawapres Jokowi yang digaungkan di daerah.

Hendrawan menyadari berbagai kombinasi pasangan capres akan terus bergulir sampai Pemilu 2014. Namun dia tak akan ikut-ikutan lagi bicara soal spekulasi terkait capres PDIP. "Fraksi menginstruksikan untuk tidak memperkeruh suasana," kata Hendrawan saat berbincang dengan detikcom.

Dari mana datangnya instruksi itu? Kalau dibilang fraksi yang mengeluarkan, tentu adalah Ketua FPDIP DPR Puan Maharani yang tak berkenan isu pencapresan Jokowi terus bergelora. Menurut sumber detikcom, Puan kini mendorong duet Mega-Jokowi di Pilpres 2014.

"Itu Puan, Hasto, yang mau Mega-Jokowi," kata sumber detikcom, Kamis (19/12/2013).

Internal PDIP memang sedang mempersiapkan duet Mega-Jokowi untuk Pilpres 2014. Salah satu yang menggelorakan duet Mega-Jokowi adalah Bendahara Umum PDIP Olly Dondokambey. Menurut Olly, Mega masih pantas memimpin negeri ini, duet dengan Jokowi mempermudah kemenangan Mega.

"Karena pertama pengalaman Bu Mega sebagai ketua umum dan pengalaman sebagai presiden, dalam situasi bangsa kayak gini kita perlu (capres) berpengalaman seperti itu, jadi wacana-wacana itu muncul," kata Olly

Peringatan ke para pendukung Jokowi pun tak seringan itu. Salah seorang elite PDIP mengaku disemprit dengan nada tidak enak. Peringatan keras itu datangnya langsung dari Ketum PDIP Megawati Soekarnoputri.

"Bilang ke dia, masih mau aku jadi Ketum?" kata sumber detikcom, mengungkap peringatan keras Mega ke elite PDIP yang mengungkap kuatnya dukungan daerah ke pencapresan Jokowi. Peringatan itu dititipkan Mega ke salah satu pimpinan DPR untuk diteruskan ke elite partai yang dianggap membangkang.

Peringatan ini berakibat luas. Tak hanya Hendrawan saja yang tak mau lagi menggaungkan pencapresan Jokowi. Beberapa elite PDIP yang selama ini kerap menyuarakan pencapresan Jokowi pun berpindah haluan.

"Kader terbaik PDIP yaitu Ketua umum memenuhi kriteria (sebagai capres), sehingga sudah tepat DPP mengembangkan skenario Mega-Jokowi sebagai capres-cawapres apalagi mereka merupakan capres yang mendapat rating tertinggi," kata politikus PDIP Eva Kusuma Sundari di Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Selasa (17/12/2013).

Setelah peringatan keras itu pun kubu senior PDIP semakin berani menyuarakan pencapresan Mega. Sebut saja Sekjen PDIP Tjahjo Kumolo dan Ketua DPP PDIP Effendi Simbolon yang menyebut Mega sebagai pemimpin masa depan Indonesia. Lalu benarkah Mega akan mengejar ambisinya di Pilpres 2014? Akankah duet Mega-Jokowi terealisasi, ataukah Jokowi hanya dijadikan alat dongkrak suara partai? Kalau yang terakhir yang terjadi, bisa jadi 'ter...la...lu'.

Rabu, 18 Desember 2013

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Jokowi Gubernur, Bukan Wapres


Elektabilitas Jokowi yang terus meroket menjelang pemilu 2014 ini, memang membuat banyak pihak berspekulasi tentang masa depannya. Banyak yang berharap Jokowi akan menjadi Capres untuk Pemilihan Presiden 2014 mendatang, namun isu itu terus dibiarkan mengambang oleh pihak PDIP, partai yang menaungi Jokowi.

Semakin ke sini, muncul pula isu bahwa Jokowi akan menjadi cawapres dari Megawati. Namun sama seperti isu pertama, pihak PDIP masih menanggapinya secara dingin. Bahkan salah seorang politisi PDIP berikukuh menyatakan Jokowi adalah Gubernur, bukan Wapres. Simak berita selengkapnya di tulisan yang kami sadur dari Detik.com ini.

Politisi PDIP: Jokowi Diamanahkan Sebagai Gubernur Jakarta, bukan Wapres

Oleh: Bagus Prihantoro Nugroho

Jakarta - Isu penduetan Megawati sebagai capres dan Jokowi sebagai cawapresnya muncul menjelang tahun politik 2014. Politisi PDIP Budiman Sudjatmiko menyatakan bahwa Jokowi lebih baik fokus pada jabatannya saat ini saja, sebagai Gubernur DKI Jakarta.

"Jokowi itu diamanahkan untuk memimpin DKI Jakarta sebagai Gubernur DKI Jakarta. Sejauh ini kinerjanya bagus kan? Jadi lebih baik daripada diisukan jadi Cawapres," ujar Budiman di Gedung DPR RI, Senayan, Jakarta Pusat, Rabu (18/12/2013).

Budiman memaparkan sejumlah pembangunan yang telah dicapai Jokowi. Pembangunan tersebut dicapai karena posisi Jokowi sebagai orang nomor satu dalam pengambilan keputusan.

"Kita lihat sekarang pembangunan monorail sudah dilanjutkan, pembangunan jalan, rumah susun. Ini semua bertahap ya, kan Jokowi bukan tukang sulap. Tapi kan pembangunan sudah terlihat," imbuhnya.

Mengenai pencapresan, sejauh ini PDIP belum memutuskan hal tersebut. PDIP masih menargetkan menang pileg terlebih dahulu.

"Pokoknya target kami 27,02 persen dari pemilihan nasional. Kalau tidak seperti itu mana bisa mengusung capres sendiri?," pungkasnya.

    Blogger news

    Blogroll

    Categories

    Tentang Kami

    Directory berita tentang pemilu legislatif dan pemilihan presiden 2014