Tampilkan postingan dengan label Partai Demokrat. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Partai Demokrat. Tampilkan semua postingan

Selasa, 01 Juli 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Akhirnya, Demokrat Sudahi Masa Golput


Setelah cukup lama bimbang dan tidak menentukan pilihan, kini akhirnya partai Demokrat memberikan keputusan tentang dukungannya. Yap, partai yang akan menikmati masa-masa terakhir kekuasaannya ini, telah secara resmi menjadikan salah satu pasangan sebagai jagoannya.

Siapa pasangan yang beruntung (atau malah sial) itu? Mari kita simak bersama berita yang kami sadur dari Republika.co.id ini dan bonus, ada ulasan juga seputar pengaruh dukungan Demokrat ini terhadap Pilpres mendatang

Demokrat Bisa Rusak Koalisi Merah Putih Prabowo-Hatta
Oleh: Mansyur Faqih

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Partai Demokrat secara resmi menyatakan dukungannya kepada pasangan nomor urut satu Prabowo-Hatta, Senin (30/6). Langkah itu dinilai berpotensi menimbulkan konflik di antara partai koalisi pendukung Prabowo-Hatta dan rawan pecah jika pasangan ini terpilih.
Pengamat politik Universitas Indonesia Maswadi Rauf mengatakan, Demokrat yang datang terlambat akan membuat cemburu partai koalisi Merah Putih. Sebab, Demokrat dianggap tak ikut bekerja dalam pemenangan pasangan nomor urut satu itu.
"Prabowo harus hati-hati karena yang lain bisa cemburu. Jika Prabowo-Hatta terpilih, koalisi ini rawan pecah," katanya saat dihubungi, Selasa (1/7).
Dalam politik, katanya, sah-sah saja bicara pembagian kekuasaan. Namun, masuknya partai yang dibidani Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu ke kubu Prabowo-Hatta akan memicu kecemburuan jika ada ketidakadilan dalam pembagian kursi kekuasaan. Malah, bukan tak mungkin koalisi itu bisa pecah.
Guru besar ilmu politik UI itu menambahkan, sejak awal Demokrat memang terlihat ragu-ragu dalam bersikap. Hal ini terlihat dari perjalanan panjang partai berlambang segitiga mercy itu sejak detik-detik terakhir penentuan koalisi sebelum pendaftaran ke Komisi Pemilihan Umum (KPU) sampai penentuan sikap secara resmi pada 30 Juni.
Sebelum pendaftaran ke KPU, Demokrat menyatakan netral. Tetapi di tengah jalan mengatakan akan berkoalisi dengan calon yang mempunyai visi misi segaris dengan program SBY. Hingga pada 1 Juni mereka mendengar pemaparan Prabowo-Hatta dan mengatakan visi misinya sejalan dengan pemerintah SBY.
Sikap itu, katanya, tidak lain karena sentralistik kepemimpinan Demokrat yang bergantung pada figur SBY. "Itu karena semua tergantung dan menunggu SBY. Dan SBY lama dalam menentukan sikap partai," ujarnya.
Maswadi juga meyakini, suara 10 persen Demokrat dalam pileg tak otomatis ke Prabowo. Sebab, masyarakat akan melihat figur kedua calon atau head to head antara Prabowo dan Jokowi.

Rabu, 04 Juni 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Jokowi Tidak Akan Menyampaikan Visi Misinya di Depan Demokrat?

Prabowo telah menyampaikan visi dan misinya di hadapan partai Demokrat beberapa waktu lalu. Hal itu lantas menimbulkan pertanyaan, kapan Jokowi akan melakukan hal serupa?

Tentu saja, pilihan kembali pada Jokowi yang memiliki kepentingan. Apakah dia menganggap hal itu perlu? Atau tidak perlu sama sekali. Itu semua adalah pilihan Jokowi dan timsesnya.

Lalu, bagaimana dengan sikap partai demokrat terkait hal itu? Apakah mereka akan mengundang Jokowi secara khusus untuk melakukan hal serupa seperti yang dilakukan oleh Prabowo? Sepertinya tidak. Tapi siapa tahu? Dalam dunia politik, perubahan sikap bisa terjadi dalam waktu super singkat. Semuanya tidak dapat kita ramal dengan pasti, hanya dapat kita analisis, dan seringnya salah.

Untuk mengetahui kabarnya lebih jelas, mari kita simak berita yang kami sadur dari republika.co.id dulu:

Demokrat Malas Fasilitasi Kubu Jokowi

Oleh: Erik Purnama Putra

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Ketua Harian Partai Demokrat (PD) mengisyaratkan, pihaknya enggan memfasilitasi kubu capres Jokowi untuk menyampaikan visi dan misinya sebagaimana kesempatan yang mereka berikan kepada kubu capres Prabowo Subianto.
"Kalau mau ya bikin surat dulu dong, baru kita bahas nanti," kata Sjarief Hasan di Jakarta, Jumat (30/5).

Dia enggan menjawab dengan langsung apakah Demokrat masih membuka kesempatan kubu Jokowi untuk menyampaikan visi dan misi di depan kader dan pimpinan partai tersebut.
Menteri koperasi dan UKM itu menegaskan, partainya tidak pernah mengedarkan undangan kepada capres manapun agar menyampaikan visi dan misi mereka di hadapan para kader partai pimpinan SBY tersebut.

"Begini kami tidak pernah mengedarkan undangan tapi kalau ada yang datang mengirim surat, kita tentu sambut," katanya.

Meski begitu ia menyatakan tidak masalah dan tidak ada keharusan bagi kubu Jokowi untuk melakukan hal serupa seperti yang dilakukan Prabowo-Hatta.
"Kalau tidak juga tidak apa-apa, kami tidak katakan itu harus dan kami tidak pernah memberikan undangan kepada siapapun," katanya.

Menurut dia hanya kubu Prabowo-Hatta yang merespon keinginan Demokrat yang ingin mendalami visi dan misi para capres. "Setelah mendengarkan visi misi Prabowo-Hatta, kami akan menentukan sikap," katanya.

Selasa, 03 Juni 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Pujian Dari Petinggi Partai untuk Jokowi


Lagi-lagi, sikap ambigu diperlihatkan partai Demokrat. Setelah secara resmi tidak menyatakan dukungan untuk calon mana pun, kenyataannya, para kader partai masih sangat ingin untuk terlibat politik. Setidaknya, untuk sekedar menyampaikan pendapatnya.

Setelah kemarin Ibas sempat menyatakan dukungannya untuk Prabowo, kini ada juga petinggi partai yang justru menyatakan pujian untuk kompetitor Prabowo: Joko Widodo.

Sepertinya, kita masih akan sering melihat pujian yang berserakan dari kader partai Demokrat setelah ini. Sebelumnya, mari kita simak dulu pujian apa yang diberikan. Mari kita simak beritanya di kompas.com ini:

Petinggi Demokrat Puji Jokowi di Hadapan Purnawirawan TNI/Polri

Oleh: Indra Akuntono

JAKARTA, KOMPAS.com — Anggota Dewan Kehormatan Partai Demokrat Suaidi Marasabessy memuji calon presiden Joko Widodo (Jokowi) di depan puluhan purnawirawan TNI/Polri. Pujian itu dilontarkan Suaidi saat memberi sambutan di acara silaturahim keluarga besar perwira TNI/Polri dengan Jokowi, di Balai Kartini, Jakarta, Selasa (3/6/2014).
Suaidi menuturkan, dalam pandangannya, Jokowi adalah seorang pekerja keras yang memiliki kekuatan fisik di atas rata-rata. Dengan rutinitas yang superpadat, Jokowi dianggapnya mampu tetap tampil bugar dan tak henti menyapa masyarakat atau tokoh lainnya dalam rangka kegiatan politik atau bersilaturahim.
"Jokowi ini memiliki kekuatan fisik yang luar biasa. Semalam saya bertemu, dan berpisah sekitar jam 23.45, tapi saya dengar beliau masih akan melanjutkan kegiatannya di dua agenda lain dan sekarang dapat hadir di tengah-tengah kita," kata Suaidi.
Mendengar itu, puluhan purnawirawan TNI/Polri yang hadir memberikan tepuk tangan riuh. Jokowi hanya tersenyum dan mengangguk. Ia melanjutkan, pertemuannya dengan Jokowi semalam adalah dalam rangka deklarasi dukungan untuk Jokowi-Jusuf Kalla yang digelar di Jalan Cik Ditiro, Jakarta Pusat. Dalam acara itu, hadir para pengusaha mebel dari kawasan Pulau Jawa dan Pulau Bali.
Dalam acara hari ini, sejumlah purnawirawan TNI/Polri hadir, di antaranya mantan Panglima TNI Jenderal (purn) Wiranto, mantan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Hendropriyono, Jenderal TNI (Purn) Luhut Panjaitan, dan lainnya. Jokowi hadir tanpa didampingi Jusuf Kalla yang tengah menjalankan aktivitas di lokasi lain.

Rabu, 28 Mei 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Tim Sukses Prabowo Hatta dari Partai Demokrat


Meskipun partai Demokrat tidak memutuskan untuk memberikan suaranya secara resmi kepada salah satu pasangan, namun bukan berarti kadernya tidak diperbolehkan memilih. Baru-baru ini, salah satu kader partai Demokrat yang cukup berpengaruh, memutuskan untuk menjadi tim sukses dari Prabowo Hatta.

Memang, visi dan misi yang jelas dan lugas dari Prabowo Hatta sejauh ini telah membuat banyak politikus memutuskan untuk ikut ke dalam koalisinya. Dan hal itu juga berlaku bagi politisi dari partai Demokrat ini. Siapakah politisi yang dimaksud itu? Mari kita simak bersama berita yang kami sadur dari Viva.co.id ini:

Marzuki Alie Jadi Tim Sukses Prabowo-Hatta

Oleh: Aries Setiawan, Nur Eka Sukmawati

VIVAnews - Wakil Ketua Majelis Tinggi Partai Demokrat, Marzuki Alie, bergabung dalam tim pemenangan calon presiden dan calon wakil presiden, Prabowo Subianto-Hatta Rajasa.

Marzuki menegaskan bahwa keputusannya untuk bergabung dalam tim sukses Prabowo-Hatta atas inisiatif sendiri. Marzuki menilai pasangan itu berkomitmen melanjutkan Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.

"Kan Pak Prabowo sudah mengatakan program Pak SBY yang bagus akan dilanjutkan, yang kurang akan diperbaiki," ujar Marzuki, Rabu, 28 Mei 2014.

Tak hanya itu, ketua Dewan Perwakilan Rakyat itu juga merasa memiliki kedekatan personal dengan Hatta Rajasa. Kata Marzuki, Hatta mempunyai kapasitas untuk mengurus negara.

"Kami kan sama-sama orang Sumatera Selatan, pernah sama-sama jadi tim sukses SBY, saya waktu itu sekretaris. Beliau kan juga pernah jadi menko Perekonomian," ungkap dia.
Rapat Tim Kampanye Nasional Prabowo-Hatta usai dilaksanakan di Rumah Polonia, Jalan Cipinang Cempedak I, Otista, Jakarta Timur, Minggu 25 Mei 2014. Hasilnya, ada sekitar 50 anggota tim sukses dalam pemenangan pasangan capres-cawapres ini.

Juru Bicara Tim Pemenangan Prabowo Subianto-Hatta Rajasa, Tantowi Yahya mengatakan, anggota itu merupakan perwakilan dari partai-partai anggota koalisi dan mendapatkan posisi yang sama.

Jumat, 23 Mei 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Demokrat dan PKS Semakin Merapat ke Gerindra


Dukungan elit politik kepada kubu Merah Putih Gerindra semakin membesar. Setelah sebelumnya PAN, PPP, dan Golkar sudah memastikan dukungannya untuk Prabowo, sekarang sekelompok pimpinan daerah dari Demokrat dan PKS yang semakin merapat ke Gerindra.

Dengan dukungan yang terus mengalir ini, tentu saja kemungkinan Prabowo untuk memenangi pertarungan pilpres 2014 mendatang menjadi semakin terbuka. Seperti yang kita ketahui, Jokowi hanya didukung oleh 4 partai, yaitu PDIP, PKB, Gerindra, dan Hanura.

Untuk lebih lengkapnya, mari menyimak berita yang dilansir oleh Republika.co.id ini:


Kepala Daerah dari Demokrat dan PKS Jadi Tim Prabowo-Hatta

Oleh: Irfan Fitrat

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA-- Tim pemenangan pasangan capres-cawapres dari koalisi Merah Putih Prabowo Subianto-Hatta Rajasa akan melibatkan sejumlah kepala daerah. Tidak hanya dari partai koalisi, tim pemenangan pun akan melibatkan kepala daerah yang berasal dari partai lain.

Sekretaris Tim Pemenangan Nasional Prabowo-Hatta Fadli Zon mengatakan, akan dibentuk tim kampanye daerah. "Rencananya di setiap provinsi yang akan menjadi ketua tim kampanye daerah adalah kader-kader partai yang mungkin kebetulan adalah gubernur atau ketua DPRD," kata Fadli, di kantor DPP Partai Gerindra, Jakarta Selatan, Kamis (22/5).

Kepala daerah yang menjadi prioritas utama berasal dari partai koalisi. Namun Fadli mengatakan, tim pemenangan akan mengundang dan mengajak tokoh di berbagai daerah yang mempunyai kekuatan. Salah satunya adalah Gubernur Jawa Timur Soekarwo. Meski Soekarwo merupakan Ketua DPD Partai Demokrat Jawa Timur.
"Ya kita akan minta Pakde Karwo dan Syaifullah Yusuf untuk menjadi pimpinan dari tim kampanye daerah di Jawa Timur," ujar dia.

Selain Soekarwo, Ketua Pelaksana Harian Tim Pemenangan Prabowo-Hatta Zulkfili Hasan sempat menyatakan Gubernur Papua yang juga Ketua DPD Partai Demokrat Provinsi Papua Lukas Enembe akan masuk dalam tim pemenangan daerah.
Menurut Zulkifli, hal itu bukan persoalan. Sementara mengenai Soekarwo, Fadli mengatakan, sudah ada jalan dari Partai Demokrat. "Mereka sudah mendapatkan izin untuk bergabung mendukung tim kampanye Prabowo-Hatta," kata dia.

Meskipun ada politisi Partai Demokrat yang bergabung dalam tim pemenangan, Fadli tidak bisa memastikan, sikap partai berlambang bintang mercy itu. Ia mengindikasikan partai yang dipimpin Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) itu belum mengarahkan dukungan secara resmi pada Prabowo-Hatta.
"Pokoknya kalau sikap politik ya itu kan nanti ditunggu sampai saat saat yang tepat begitu. Tapi dari tim kampanye daerah itu sudah kawan-kawan dari berbagai partai politik sudah sepakat untuk seperti itu," kata dia.

Partai Keadilan Sejahtera (PKS) yang tergabung dalam koalisi Merah Putih juga akan mengoptimalkan peran kepala daerah. Presiden PKS Anis Matta, Rabu, mengatakan, ada empat gubenur yang akan diminta bantuan. Yakni, Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan, Gubernur Sumatera Utara Gatot Pujo Nugroho, Gubernur Sumatera Barat Irwan Prayitno, dan Gubernur Maluku Utara Abdul Ghani Kasuba.

Rabu, 08 Januari 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Inilah Visi Gita Wirjawan


Gita Wirjawan yang sempat menghebohkan dengan bombardir iklannya di berbagai media online (salah satu yang paling heboh: di halaman depan kaskus), akhirnya menuturkan visinya mengapa mengikuti konvnsi Demokrat. Tentu saja, dia memang berambisi untuk menjadi peserta dalam pemilihan presiden 2014 pada Juni nanti. Dan ikut konvensi partai Demokrat, mungkin akan mempermudah keinginannya untuk menjalankan visi Gita untuk Indonesia. Apa saja yang ingin dilakukannya? Simak berita dari Merdeka ini.

Ikut konvensi capres Demokrat, Gita ingin perbaiki Indonesia

Oleh: Sukma Alam

Merdeka.com - Sebagai calon presiden dari konvensi Partai Demokrat, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan menyambangi Sekretariat Konvensi Demokrat di Jalan Pati Unus No. 75, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan. Gita datang bersama istri dan anak serta para pendukungnya.

Pantauan Merdeka.com, Gita datang pada pukul 14.00 wib dan dikawal 4 Punakawan sebagai simbol kesatriaan. Gita langsung memaparkan visi misi dan memberikan alasan dia mencalonkan diri sebagai pemimpin Indonesia.

"Saya datang dengan kesadaran penuh bahwa Indonesia bisa lebih baik. Saya maju untuk memperbaiki Indonesia apaun yang bisa diperbaiki tentu ada cerminan Indonesia baru," ujar Gita, Selasa, (6/13).

Berangkat dengan dukungan rakyat, Gita Wirjawan siap menjadi pemimpin bangsa yang baik ke depannya. Menurut Gita, pemimpin yang dibutuhkan Indonesia saat ini adalah pemimpin yang mau dan mampu meningkatkan kesejahteraan rakyat dan mampu mengedepankan demokrasi jauh lebih baik dari negara-negara lain.

"Sejatinya demokrasi paling penting untuk azas rakyat dan untuk pemimpin yang baru yang mengedepankan rakyat. Agar Tanah Air kita dapat menjunjung tinggi bagi bangsa dan negara Indonesia," tandas Gita.

Senin, 06 Januari 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Hubungan Kenaikan Harga Elpiji dengan Dahlan Iskan


Berita kenaikan gas elpiji tentu menjadi berita yang heboh. Selain karena dampaknya akan terasa langsung kepada masyarakat, juga karena waktu terjadinya yang mepet dengan pemilu. Tak ayal, para pihak pun mulai berpendapat tentang hubungan kenaikan gas elpiji ini dengan proses pemilu besok. Beberapa pihak bahkan dengan yakin mengatakan bahwa kenaikan ini adalah salah satu upaya untuk menjegal calon presiden potensial yang mungkin muncul di tahun ini.

Dahlan Iskan, sang menteri BUMN yang jobdesknya berhubungan erat dengan elpiji ini (elpiji diurus oleh Pertamina, yang merupakan BUMN), menjadi salah satu tokoh yang banyak dihubungkan. Beberapa berpendapat, bahwa Dahlan memang sengaja dijatuhkan. Memang, saat ini Dahlan masih menjadi kandidat terkuat partai Demokrat, dengan nilai elektabilitas tertinggi dibanding peserta konvensi lain. Bahkan, elektabilitas Dahlan hampir mencapai 70%! Mungkinkah kenaikan harga elpiji 12 kg ini benar-benar upaya untuk menjatuhkan Dahlan Iskan sebagai peserta di pemilihan presiden 2014 besok? Mari kita simak berita yang kami sadur dari berita satu ini.

Kenaikan Elpiji Diduga untuk Jatuhkan Dahlan Iskan

Oleh: ARD

Jakarta - Pengamat politik dari Lingkar Madani untuk Indonesia (Lima), Ray Rangkuti, menilai kenaikan harga gas elpiji 12 kilogram (kg) di awal 2014 ini, dapat juga dilihat sebagai skenario politik dengan dua target sekaligus.

"Target pertama dan minimal adalah menjadikan Menteri BUMN Dahlan Iskan sebagai sasaran tembak. Yakni menjadikan nama Dahlan tercemar di mata masyarakat luas, khususnya kelas menengah dan bawah," kata Ray, di Jakarta, Minggu.

Hal itu, kata dia, tentu tak lepas dari makin kokohnya nama Dahlan Iskan sebagai pemuncak dalam berbagai survei kandidat capres Partai Demokrat. Sementara nama yang digadang-gadang nampaknya tak jua menuai kesan postif di masyarakat.

"Bila nama Dahlan dibuat buruk di masyarakat, maka ada kemungkinan nama-nama yang diinginkan terpilih dalam konvensi akan makin mudah dinominasikan," kata Ray.

Target kedua, lanjut dia, menjadikan partai-partai koalisi sebagai 'pahlawan' untuk menaikkan elektabilitas partai-partai koalisi.

"Sejak awal kemungkinan memang dibuat skenario untuk menaikan harga elpiji, tetapi sekaligus begitu diumumkan Pertamina, akan dibatalkan oleh partai-partai yang sebelumnya mendukung," katanya.

Target dari skenario ini menurut Ray, agar partai koalisi terlihat pro rakyat, peduli pada kesulitan dan sensitif terhadap kehendak publik. Dengan begitu pula, sedikit banyak diharapkan akan dapat menaikkan baik popularitas maupun elektabilitas partai.

"Dalam hal ini terlihat sangat dominan menolak adalah Demokrat dan PAN. Padahal sebelumnya, dua partai ini kalau tak disebut mendukung (kebijakan), seolah membiarkan pertamina mengambil sendiri kesimpulan menaikkan atau menurunkan harga gas elpiji," katanya.

Kini setelah dinaikkan dan terlihat ada amarah masyarakat, dua parpol ini buru-buru balik badan seolah tidak mendukung sama sekali. Mereka menurut Ray, bahkan mengecam pertamina seolah tak sensitif dengan beban masyarakat.

"Inilah nampaknya dua target yang hendak dicapai dalam skenario kenaikan harga gas elpiji. Kita tunggu skenario dan permainan berikutnya," kata Ray.

Jumat, 03 Januari 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Dahlan Iskan Terkuat di Konvensi


Meskipun gaungnya tidak terlalu terdengar, tapi konvensi partai Demokrat tetaplah sebuah cerita yang layak untuk disimak. Banyaknya nama besar yang ikut bermain di dalamnya, membuat konvensi ini bisa jadi, tetap akan memberikan peran penting bagi proses pemilihan presiden 2014 mendatang. Pertanyaannya sekarang, diantara para peserta, siapakah yang terdepan? Meskipun Gita Wirjawan sudah berusaha sekuat tenaga dengan big bangnya melalui berbagai media elektronik, namun tetap saja dia tidak berada di 2 besar. Sementara itu, Anies Baswedan yang membuat sistem kampanye unik melalui turuntangan, juga hanya mampu bercokol diurutan kedua. Lalu siapa yang pertama?

Dahlan Iskanlah orangnya. Meskipun dia tidak terlalu fokus di konvensi, dan masih lebih sibuk pada tugasnya sebagai Menteri BUMN dan masalah kesehatan, namun elektabilitasnya tetap saja tidak bisa dibendung di konvensi Demokrat ini. Lengkapnya, silahkan lihat berita dari vivanews ini.

Komite Konvensi Demokrat: Elektabilitas Dahlan Iskan Tertinggi

Oleh: Anggi Kusumadewi, Nila Chrisna Yulika

VIVAnews – Dua peserta konvensi calon presiden Partai Demokrat, Dahlan Iskan dan Anies Baswedan, memiliki elektabilitas paling baik dari total 11 peserta konvensi. Hal itu dikatakan oleh anggota Komite Konvensi Effendi Gazali, Jumat 3 Januari 2014.

Effendi mengatakan, Anies termasuk media darling, sedangkan Dahlan juga memiliki media sendiri. Kemungkinan ini menjadi faktor penyumbang tingginya elektabilitas terhadap Menteri BUMN dan Rektor Universitas Paramadina tersebut.

Effendi kemudian menyinggung peserta konvensi lainnya, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan. “Ada konsep kampanye yang agak keliru pada Gita,” kata dia tanpa menjelaskan rinci.

Sementara soal elektabilitas sisa peserta konvensi, Effendi mengatakan “Belum terlihat.”

Menurut dosen Pascasarjana Ilmu Komunikasi UI itu, ada beberapa kendala yang dihadapi peserta konvensi. Ketua DPD Irman Gusman misalnya, punya basis daerah yang belum terakumulasi. Sementara Ketua DPR Marzuki Alie punya konsep yang berbeda dengan SBY namun belum terartikulasi baik.

“Partai Demokrat butuh orang-orang yang menunjukkan perbedaan dengan SBY,” kata Effendi.

Ia mengusulkan ada babak penyisihan dalam proses konvensi. Penyisihan itu bisa dalam debat kandidat peserta konvensi dan survei. “Misalnya sekarang ada 11 peserta, disisihkan tinggal 8, kemudian disisihkan lagi ke 4, sampai akhirnya 1,” ujar Effendi.

Tujuan tahap penyisihan itu, menurut dia, agar konvensi Demokrat menarik minat masyarakat, fokus, dan menantang bagi kontestannya. Soal pemenang, kata Effendi, akan diputuskan oleh Komite Konvensi. Partai Demokrat hanya akan mengumumkan pemenang secara administratif.

Sebelas peserta konvensi Demokrat adalah anggota BPK Ali Masykur Musa, Rektor Universitas Paramadina Anies Baswedan, Menteri BUMN Dahlan Iskan, Dubes RI untuk AS Dino Patti Djalal, mantan Panglima TNI Endriartono Sutarto, Menteri Perdagangan Gita Wirjawan, anggota DPR Hayono Isman, Ketua DPD Irman Gusman, Ketua DPR Marzuki Alie, mantan KSAD Pramono Edhie Wibowo, dan Gubernur Sulawesi Utara Sinyo Harry Sarundajang.

Kamis, 02 Januari 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Bagaimana Cara Mengangkat Pamor Konvensi Demokrat?


Pada periode lalu, Demokrat benar-benar menunjukan hegemoninya untuk pemilu. Tidak kurang dari 20% suara didapatkannya, membuatnya menjadi partai yang menduduki kursi terbanyak di Senayan. Tidak hanya itu, capres yang diusungnya, yaitu Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) secara sensasional mampu memenangi pemilihan presiden 2009 dalam satu suara. Terhitung, tidak kurang dari 60% suara didapatkannya. Tak bisa dipungkiri, Demokrat adalah pemenang tunggal dalam pemilu 2009 kemarin.

Namun, seiring berjalannya waktu, elektabilitas Demokrat terus menukik tajam menjelang 2014 ini. Berbagai kasus korupsi, serta masalah internal partai yang membuat SBY merangkap jabatan di Demokrat, menjadi beberapa alasannya.

Salah satu bukit telah semakin turunnya nama partai Demokrat di mata masyarakat adalah pada konvensinya. Konvensi Demokrat, yang diharapkan akan menjadi konvensi yang heboh di masyarakat, ternyata tidak begitu terdengar gaungnya. Bahkan, banyak yang menganggap hasil akhir konvensi ini tidak akan terlalu mempengaruhi hasil pemilihan presiden 2014 nanti secara keseluruhan. Lalu, bagaimana cara yang bisa diambil untuk mengangkat konvensi? Kompas.com mengulasnya dalam sebuah berita yang menarik untuk disimak.

Agar Berdaya Jual Lagi, Perlu Penyisihan Konvensi Demokrat

Oleh: Sabrina Asril

JAKARTA, KOMPAS.com - Konvensi calon Presiden Partai Demokrat dinilai masih belum menemukan nilai jualnya di mata publik, meski pada bulan Januari 2014 ini akan ada debat antar 11 peserta konvensi. Anggota komite konvensi, Effendi Ghazali, mengusulkan perlunya penyisihan peserta konvensi dilakukan secara berkala.

"Sebaiknya nanti ada penyisihan kalau melihat pengalaman beberapa bulan ini yang tidak menarik. Dari 11 peserta konvensi ini misalnya, dilakukan penyisihan setiap kali hasil survei dikeluarkan," ujar Effendi saat dihubungi Kamis (2/1/2014).

Survei konvensi akan dilakukan sebanyak tiga kali. Setiap hasil survei keluar, kata Effendi, penyisihan harus dilakukan.

"Misalkan dari yang 11 orang, menjadi 8 orang, kemudian 4 orang, dan akhirnya menjadi satu orang," tutur Effendi.

Pakar komunikasi politik Universitas Indonesia ini menyatakan penyisihan yang selalu terjadi ini akan membuat setiap kandidat merasakan semangat kompetisi. Selain itu, Effendi meyakini sajian konvensi akan semakin menarik berkat adanya kontestasi.

"Walaupun Demokrat sudah menyatakan tak akan ada penyisihan, tapi saya akan usulkan dalam rapat komite besok," ucap Effendi.

Untuk mendukung usulan penyisihan ini, Effendi pun meminta agar hasil survei selalu dibuka kepada publik.

Seperti diberitakan, pelaksanaan konvensi capres Partai Demokrat mendapat kritik karena dianggap tidak populer. Berdasarkan survei yang dilakukan Founding Fathers House (FFH) pada 9 Oktober-9 November 2013, sebanyak 76 persen responden mengaku tidak tahu bahwa Partai Demokrat sedang melakukan konvensi. 

Hal senada juga terungkap dalam survei Center for Strategic and International Studies (CSIS) awal Desember 2013 lalu. Sebanyak 83,1 persen responden mengaku tidak mengetahui ajang penjaringan calon presiden partai SBY itu. Hanya16,9 persen masyarakat yang tahu konvensi capres Partai Demokrat. Peneliti CSIS, Tobias Basuki mengatakan survei ini menunjukan terjadinya kegagalan dalam pelaksanaan konvensi. Padahal, konvensi Demokrat ini sejatinya dilakukan untuk mengembalikan citra partai yang telah tersandung dalam banyak kasus korupsi.

Senin, 30 Desember 2013

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Opini Tentang Konvesi Partai Demokrat dan Jokowi


Banyak orang berpendapat konvensi partai Demokrat kurang greget. Sebagai partai pemenang di pemilu 2009 lalu, tentu orang merasa acara Demokrat seharusnya berdampak besar pada negeri ini. Kenyataannya? Bisa dibilang hal itu tidak terlalu terlihat. Salah satu kompasioner memiliki opini mengenai hal ini. Silahkan baca tulisannya yang menjadi Featured Article di Kompasiana. Lalu, apakah hal ini juga berpengaruh pada pemilihan presiden 2014 nanti?

Mengapa Elektabilitas Jokowi Masih Unggul dari Peserta Konvensi Demokrat?

Oleh: Anna Risnawati

Bagaimana kelanjutan kisah Konvensi Demokrat ? Mungkin harus sabar menanti bagi yang pengin tahu aja atau pengin tahu banget karena masing-masing bakal capres sedang mensosialisasikan dirinya ke seluruh wilayah Indonesia. Apakah ini bisa dibilang mencuri start kampanye ? Lalu apa bedanya sosialisasi, mencari dukungan atau kampanye ? Terlihat KPU atau Bawaslu cenderung membiarkan saja. Ah…sudahlah, toh banyak yang melakukannya seperti ARB, Prabowo, Wiranto, dll. Hanya capres dari PDIP saja yang belum nongol. Megawati sebagai Ketum PDIP masih konsisten untuk konsentrasi pada Pemilihan Legislatif. Dan seperti biasanya calon dari PDIP akan muncul pada hari terakhir pendaftaran di KPU. Atau mungkin saja calon dari PDIP tidak perlu disosialisasikan lagi karena namanya sudah cukup dikenal ?  hehehe….

Saat ini bahkan muncul konvensi capres tandingan yang digelar oleh Konvensi Capres Rakyat yang dikomandoi oleh Sholehudin Wahid. Capres hasil konvensi rakyat ini nantinya akan ditawarkan ke partai-partai yang berminat meminangnya. Apakah konvensi rakyat ini akan berlangsung sukses ? Nggak tau ah…

Banyak yang menilai para peserta konvensi Demokrat masih setengah hati soal keseriusannya dalam mengikuti konvensi ini. Alih-alih untuk meningkatkan elektabilitas partai Demokrat yang jeblok, para pesertanyapun terlihat kurang antusias. Bahkan Dahlan Iskan yang berelektabilitas tertinggi dari 11 peserta konvensi pernah berujar, ada favorit di konvensi. Dan kata Dahlan lagi, ikut konvensi karena menjemput takdir. Bicara soal takdir bukan perkara mudah. Karena takdir bisa saja berarti kepastian. Seperti halnya menjemput kematian yang sudah pasti. Tetapi menjadi presiden ? Apakah sudah menjadi ketetapan Allah SWT untuk Dahlan ? Biarlah hanya Allah SWT yang tahu…

Ditambah lagi maraknya suara-suara miring yang justru berasal dari para politisi partai Demokrat sendiri. Mereka tidak bisa menjaga mulut untuk berbicara dengan santun. Tetapi malah melakukan ‘serangan’ kepada Jokowi yang jelas-jelas nggak nyapres dan nggak mikir. Hanya karena mempunyai elektabilitas tinggi secara nasional. Bahkan bukan hanya elektabilitas saja, tetapi juga akseptabilitas dan popularitas yang mencapai 90 persen. Sedangkan para peserta konvensi popularitasnya masih terbilang rendah dibawah 80 persen. Sehingga beban yang disandang para peserta konvensi semakin berat. Disatu sisi para peserta konvensi harus bisa meningkatkan elektabilitasnya sendiri, sedangkan di sisi lain keterpilihannya sebagai capres konvensi harus bisa mendongkrak elektabilitas partai Demokrat. 

Kondisi ini membuat konvensi Demokrat sulit menarik simpati masyarakat. Penyerapan pamor konvensi Demokrat hanya berkisar 24 persen saja menurut hasil survey FFH (Founding Fathers House). Konvensi Demokrat hanya dikenal di daerah perkotaan sedangkan rakyat di daerah tidak mengetahui adanya konvensi apalagi nama-nama para peserta konvensi. Dari 24 persen responden hanya sekitar 2,2 persen yang mengetahui jika konvensi diikuti 11 peserta. Lebih mengerucut lagi rakyat di daerah tidak mengenal siapa saja 11 orang para peserta konvensi itu. Seharusnya dari pihak komite konvensi dan para peserta konvensi bahu membahu memperkenalkan dan mensosialisasikan para peserta. Tidak jalan sendiri-sendiri seperti sekarang. Atau mungkin aturannya dari Komite Konvensi seperti itu ya, setelah terpilih capres dari peserta konvensi baru dikampanyekan oleh Demokrat ?

Mungkin banyaknya peserta yang masih menjabat jabatan publik inilah yang menjadikan peserta konvensi tidak maksimal dalam mengikuti konvensi. Hanya Dino Patti Djalal yang sudah mengundurkan diri sebagai PNS. Gita Wirjawan masih sebatas ucapan lisan soal pengunduran dirinya dan menunggu SBY untuk mengabulkan permohonannya. Dan hampir semua tahu betapa tidak tegasnya SBY. Jadi bisa dipastikan kasus ucapan lisannya Gita juga akan menggantung. Sedangkan Dahlan Iskan malah memilih mundur dari konvensi jika disuruh mundur dari jabatannya sebagai menteri BUMN.

Konvensi Demokrat yang sedianya merupakan seleksi untuk menjaring capres potensial yang akan diusung pada Pemilihan Presiden 2014 menjadi tidak ada gregetnya. Beban konvensi menjadi semakin berat dengan munculnya kasus-kasus korupsi yang membelit para tokoh elit Partai Demokrat. Pemberitaan di media yang mengaitkan kasus korupsi di SKK Migas dengan pendanaan konvensi. Belum lagi adanya laporan penyalahgunaan fasilitas negara untuk kampanye para peserta konvensi.

Bisakah target para peserta konvensi yang telah ditetapkan oleh Komite untuk mengungguli elektabilitas Jokowi terpenuhi ? Setelah para tokoh elit partai mengatakan dengan optimis bahwa Jokowi tidak ada apa-apanya bagi Partai Demokrat. Bahkan cenderung ‘menyerang’ secara bergiliran kepada Gubernur DKI Jakarta ini. Kaya piala bergilir aja pak….

Kemudian berapa persen suara akan hilang dari Partai Demokrat karena kecewa dari para pemilih yang dulunya mencoblos Partai Demokrat ? Apakah hal ini tidak menjadi pemikiran para elit partai ? Andai saja para tokoh elit Partai Demokrat bisa lebih santun tidak membabi buta melakukan serangan kepada Jokowi, tetapi fokus saja ke konvensi mungkin rakyat masih bisa menghargai. Mungkin saja cara itu ditempuh karena bingung bagaimana caranya menjatuhkan citra Jokowi yang makin moncer maka penggiringan opini publikpun dilakukan. Jelas suatu perbuatan yang sia-sia. Mereka lupa bahwa Jokowi dicintai rakyatnya sekaligus banyak yang berdoa untuknya.

Salam Sukses

Sabtu, 28 Desember 2013

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Demokrat Merasa Dikhianati Koalisi


Pada masa pembentukan setgab koalisi di tahun 2010 lalu, banyak pihak yang merasa Demokrat akan menjadi pemegang kekuasaan tunggal tanpa saingan di parlemen. Namun, dalam perjalanannya, ternyata koalisi tidak selalu berpihak pada Partai Demokrat. Dalam berbagai kesempatan, Demokrat justru menjadi fraksi minoritas dalam pengambilan keputusan. Termasuk, yang paling baru adalah pada perpanjangan masa kerja timwas Century. Akhirnya, melalui media oke zone, Demokrat mengungkapkan perasaannya yang merasa dikhianati oleh koalisi. Sebesar apa pengaruh peristiwa ini untuk pemilihan presiden 2014 besok? Kita tunggu saja.

Demokrat: Koalisi Khianati SBY

Oleh: Tegar Arief Fadly

JAKARTA - Fraksi Partai Demokrat menuding adanya penghianatan terhadap Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) yang dilakukan oleh partai politik anggota Sekretariat Gabungan (Setgab) koalisi.

Hal itu dapat dilihat dari adanya perbedaan dari anggota koalisi terhadap perpanjangan masa kerja Timwas Century dan Perppu MK dalam sidang paripurna DPR beberapa waktu lalu.

"Saat ini Pak SBY sering dikhianati. Kami ingin koalisi yang tulus, beretika, dan konstruktif," kata Sekretaris Fraksi Partai Demokrat DPR, Teuku Riefky Harsya di Senayan, Jakarta, Kamis (26/12/2013).

Peristiwa ini, kata Riefky, akan dijadikan pelajaran oleh partainya agar ke depan bisa menciptakan koalisi yang satu suara, tanpa ada perselisihan terutama dalam parlemen.

"Ini pengalaman besar, catatan yang bagus untuk kami, dan semua partai," tegas anggota Komisi VII DPR itu.

Dalam voting yang dilakukan saat Paripurna itu, tercatat 157 orang yang berasal dari Fraksi Partai Demokrat dan Fraksi PPP menolak memperpanjang masa kerja Timwas.

Sedangkan fraksi lainnya, yakni Fraksi Partai Golkar, Fraksi PDI Perjuangan, Fraksi PKS, Fraksi PAN, Fraksi PKB, Fraksi Partai Gerindra, dan Fraksi Hanura yang total berjumlah 248 sepakat memperpanjang masa kerja Timwas.

Di antara 560 anggota dewan, tercatat hanya 405 legislator yang mengikuti voting terkait Timwas Century ini. Dengan demikian, DPR sepakat untuk memperpanjang masa Timwas, dan keputusan ini langsung disahkan.

Sementara untuk Perppu MK, Fraksi PKS dan beberapa anggota Fraksi PPP menolak diusulkannya Perppu penyelamat MK itu.

Jumat, 27 Desember 2013

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Kampanye Ala Anies Baswedan


Peserta Konvensi Demokrat semakin gencar saja menunjukan usahanya untuk tampil di masyarakat. Setelah Dahlan Iskan dan Gita Wirjawan banyak bermunculan di media akhir-akhir ini. Terutama untuk yang nama kedua, dimana dia sudah cukup berhasil menghebohkan media sosial Indonesia lewat iklannya yang begitu banyak.

Sekarang, Anies Baswedan justru yang tampil dengan model kampanyenya yang unik. Setelah kemarin sempat muncul dengan pernyataan kontroversialnya yang mengatakan bahwa blusukan adalah pencitraan. Kini Anies muncul dengan cara kampanyenya yang unik. Penasaran? Lihat saja di berita yang dilansir oleh kompas.com ini.

Sepertinya, persaingan menuju pemilihan presiden 2014 semakin menarik.


Hotel Berjalan dan Cara Anies Baswedan Berjumpa Rakyat


Oleh: Sabrina Asril

KOMPAS.com – Dua unit bus karavan rombongan peserta konvensi calon Presiden Partai Demokrat, Anies Baswedan, melaju cukup kencang di jalur Nagrek, Sabtu (21/12/2013) malam. Bus ini tengah membawa Anies beserta rombongan relawan dan wartawan bertolak dari Bandung menuju destinasi selanjutnya, Tasikmalaya.

Di tengah perjalanan, hujan deras mengguyur kawasan itu. Anies ketika itu tengah melakukan sesi wawancara dengan wartawan di dalam bus khusus wartawan dan relawan. Sesi wawancara dimulai dengan cerita Anies soal kakeknya, AR Baswedan yang merupakan pejuang kemerdekaan.

Setelah itu, wartawan satu per satu mulai bertanya soal perjalanannya kali ini yang menggunakan jalur darat, menjelejajahi Pulau Jawa sejauh 3.000 kilometer. Dari tempat-tempat yang direncanakan akan dikunjungi Anies, terlihat bahwa Anies tengah mendekatkan diri dengan kalangan pesantren yang selama ini menjadi basis massa Nahdlatul Ulama (NU). Hal ini cukup mengejutkan lantaran Anies bukanlah tokoh NU. Kini, sudah ada dua tokoh dari NU yang hendak mengincar kursi RI 1 yakni Ali Masykur Musa yang bersama Anies maju dalam konvensi, dan Mahfud MD yang sudah mengklaim mendapat dukungan kyai-kyai NU dan juga Partai Kebangkitan Bangsa (PKB).

Anies menjawab, dia hanya berusaha mendekati semua kalangan. Yang terpenting, katanya, pesan kampanye “turun tangan” bisa disebarkan ke semua kalangan, termasuk kalangan santri yang juga para pemuda.

"Dari dulu memang saya seringnya bekerja dengan pemuda. Maka, ini konsisten saya jalankan sekarang. Tidak mungkin saya mengubah gaya saya, yang bukan jati diri saya sebenarnya," kata Rektor Universitas Paramadina ini. Dengan menyebarkan ide gerakan turun tangan ke berbagai kalangan, Anies yakin akan timbul sebuah gerakan besar untuk bersama-sama menyelesaikan masalah bangsa.

Ketika obrolan mulai hangat, kondisi jalan buruk membuat bus terus berguncang.

Apalagi, jalur Nagrek berkelok-kelok. “Ya beginilah kalau naik bus, terasa sekali infrastrukturnya tidak bagus,” ucap Anies.

Wawancara terus berlangsung. Namun, satu per satu wartawan terlihat mulai “mabuk”. Beberapa di antaranya memilih menengadahkan kepala ke atas, ada pula yang langsung mengoleskan minyak kayu putih di tubuhnya. Satu dua orang mulai silih berganti memasuki toilet dengan muka pucat. Anies yang masih bugar saat itu, mulai melihat kondisi sudah tak kondusif lagi untuk berbincang-bincang.

Apalagi, dua fotografer yang dibawa Anies juga terlihat mulai kepayahan. Jika pertama, mereka berdiri tegap, akibat jalanan yang berliku, kedua fotografer itu pun duduk dengan tampang kuyu.

“Sudah mulai mabuk ya?” tanya Anies yang dijawab anggukan seisi bus.

Anies memutuskan untuk diam, dan membalas pesan singkat yang masuk ke telepon selulernya. Tak lama kemudian, Anies pun terlihat pusing. “Terasa betul kalau sambil menulis,” ujarnya sambil merebahkan kepala di sofa dalam bus. Setelah berdialog di Cipasung, Anies beserta rombongan melanjutkan perjalanan.

Hambatan rupanya tak segera hilang. Bencana banjir melanda jalur yang akan dilewati rombongan. Akibatnya, bus terpaksa harus memutar ke jalur lain yang lebih jauh. Hal ini membuat beberapa titik yang rencananya akan didatangi Anies dibatalkan.

Hotel berjalan
Gaya blusukan Anies tidak mengenal hotel atau pun wisma penginapan. Selama enam hari lima malam perjalanan berkeliling Jawa, tidak sekali pun bus berhenti di hotel. Sebagian waktu bermalam dihabiskan di dalam bus karavan.

Bus karavan ini bisa dibilang sebagai hotel berjalan sepanjang perjalanan. Bus yang mengantarkan Anies beserta rombongan ini juga cukup mewah. Di dalamnya terdapat dua buah sofa, satu buah kursi pijat, dua tempat tidur model bunk bed, dan satu set meja dan kursi untuk membaca atau makan. Bus ini juga dilengkapi dengan alat pemutar DVD. Namun, fasilitas mewah ini tetap saja terasa kurang mana kala satu unit bus disesaki sampai 20 orang.

Malam hari, tidak ada ruang kosong tersisa, semua dipakai untuk tidur wartawan dan relawan. Kolong sofa, hingga area depan toilet pun menjadi pilihan sebagai tempat tidur dadakan. Demikian pula dengan bus karavan yang ditumpangi Anies. Anies kerap tidur di kursi, sementara kamar tidur di dalamnya dipakai istri dan keempat anaknya yang turut dalam perjalanan kali ini.

Memasuki pagi hari, bus biasanya berhenti di rest area untuk sarapan dan memberikan waktu kepada rombongan untuk mandi. Anies tak berusaha tampil eksklusif. Mau tidak mau, dia harus menyesuaikan diri dengan kondisi yang ada. Dia dan anak-anaknya ikut mengantri di toilet umum bersama warga lain yang juga tengah menempuh perjalanan jauh. Hal ini terus terjadi di hari-hari berikutnya.

Warga pun tak ada yang mengenalnya. Mereka hanya terheran dengan pria yang sedang mengantri memiliki wajah yang mirip dengan stiker besar yang ditempel di badan bus.

Tidak kapok

Meski kerap menemui hambatan di perjalan dan mendapat fasilitas seadanya, Anies mengaku tak kapok mengulangi kembali perjalanan jalur daratnya ke tempat-tempat lain di luar jawa. Menurutnya, dengan berkeliling pakai jalur darat, membuat dia dengan masyarakat yang akan didatangi lebih dekat.

Bahkan, Anies sempat dicegat seorang warga yang baru saja membaca artikel tentang ibunda Anies, Aliyah Rajasa di sebuah koran. Ketika itu, bus Anies tengah melintas di Kediri saat hendak menuju makam Bung Karno di Blitar. Bapak yang diketahui bernama Djoko Sunarno itu pun berteriak dan melambaikan tangan. Anies menggubrisnya dengan turun dari bus, dan menghampiri pria setengah baya itu di pagar rumahnya.

Cara seperti ini, sebut Anies, lebih mengesankan dibandingkan berkampanye dari satu titik ke titik lainnya menggunakan pesawat terbang. “Kita tidak akan pernah tahu buruknya fasilitas, kendala-kendala lain yang dirasakan masyarakat. Dalam perjalanan ini, saya banyak melihat dan memperhatikan, dan juga merasakan,” katanya.

Kampanye dengan cara seperti ini, ucap Anies, akan terus diterapkannya ke wilayah lain. “Semakin sederhana transportasi yang kita pakai, maka kita akan semakin mendekati pada realitas yang ada di masyarakat. Rencananya saya akan pakai cara ini ke wilayah lain. Misalkan, ke Indonesia Timur pakai kapal laut, atau di Kalimantan pakai moda transportasi sungai,” imbuh Rektor Paramadina ini.

Rabu, 25 Desember 2013

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Hasil Pertemuan SBY dan Prabowo


Pertemuan antara Prabowo Subianto dan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) tentu banyak menarik minat publik. Meskipun jalannya pertemuan tidak akan pernah diketahui oleh publik, namun Prabowo memberikan beberapa poin tentang apa yang dibicarakan pada pertemuan itu. Banyak yang mengira bahwa ini merupakan konsolidasi politik menjelang pemilu dan tentunya pemilihan presiden 2014 mendatang. Tapi apakah benar demikian? Entahlah. Yang jelas, silahkan baca berita tentang keterangan dari Prabowo di berita yang kami sadur dari vivanews ini.

Prabowo: SBY Ingin Turun Panggung dengan Citra Baik

Oleh: Dwifantya Aquina, R. Jihad Akbar

VIVAnews - Presiden Susilo Bambang menggelar pertemuan dengan Ketua Umum Dewan Pembina Partai Gerakan Indonesia Raya (Gerindra) Prabowo Subianto di kantor presiden, Selasa 24 Desember 2013.

Usai pertemuan tersebut Prabowo mengatakan, SBY bercerita kepadanya bahwa dia ingin turun dari kursi presiden dengan citra yang baik. 

"Saya merasa besar hati karena saya melihat dan mendengar komitmen beliau, terhadap demokrasi, beliau katakan istilahnya ingin turun panggung dengan baik," ungkapnya.

Menurut Prabowo, hal tersebut akan dibuktikan SBY melalui komitmennya untuk melakukan serah terima jabatan, dengan siapa pun presidennya nanti, dalam suasana kerukunan.

"Jadi suasana tadi sangat produktif dan berguna bagi kepentingan semuanya," ujarnya.

Saat disinggung soal isu perkembangan politik terkini, Prabowo mengatakan, Presiden SBY mengimbau, pertarungan capres di panggung politik 2014 nanti harus dilakukan dengan suasana demokratis, adil dan tidak ada penyelewengan.

"Semua capres bersaing dengan baik dengan kekeluargaan. Dan beliau mengatakan nanti yang menentukan rakyat dan Tuhan Yang Maha Besar," katanya.

Selasa, 24 Desember 2013

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Gerindra Berkoalisi dengan Demokrat?


Dengan angin politik yang berhembus tanpa tentu arah seperti sekarang, sulit sekali bagi masyarakat untuk memprediksi langkah apa yang akan diambil oleh para peserta pemilu nanti. Termasuk sebuah wacana yang terkesan 'mustahil' untuk jadi nyata: Gerindra berkoalisi dengan Demokrat. Sesuatu yang kami bilan mustahil, mengingat Gerindra adalah partai yang selama ini cukup konsisten menjadi oposisi dari Demokrat selama masa pemerintahan 2009-2013. Namun, itulah politik, kita tidak pernah bisa menebak dengan pasti apa yang akan terjadi. Kemungkinan ini masih abu-abu, namun berita dari Merdeka ini mungkin akan memberikan sedikit titik terang bagi kita. Apapun terjadi, masih banyak kejutan yang menanti kita di pemilihan presiden 2014 nanti.

Gerindra: Prabowo diminta SBY datang ke Istana

Oleh: Randy Ferdi Firdaus

Merdeka.com - Pertemuan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) dengan Prabowo Subianto tentu menjadi sorotan publik. Apalagi, pertemuan ini dilakukan jelang Pemilu 2014.

Ketua Umum Partai Gerindra Suhardi mengaku tak tahu apa yang menjadi pembahasan pertemuan singkat SBY dan Prabowo itu. Namun ia mengatakan, pertemuan itu diinisiasi oleh SBY.

"Jadi sebenarnya saya lagi di Yogja, cuma belum tahu perkembangannya. Kemarin saya ketemu beliau (Prabowo) memang dia bilang diminta ketemu presiden," ujar Suhardi saat dihubungi, Selasa (24/12).

Suhardi membantah jika pertemuan ini dilakukan untuk membahas koalisi antara Demokrat dan Gerindra. Apalagi soal kabar Prabowo bakal diduetkan dengan pemenang konvensi, menurut dia, hal itu masih jauh.

"Oh belum ada pembicaraan soal itu. Akan sangat tergantung hasil pileg (capres cawapres). Sekarang masih belum," tegas dia.

Dia menambahkan, pertemuan SBY dan Prabowo adalah hal wajar. Sebab, keduanya adalah teman lama.

"Biasa, kan teman, atau bagaimana. Memang sahabat dekat, memang dalam beberapa pertemuan kan akrab, pada siapapun Pak Prabowo juga kan akrab dan termasuk Pak SBY akrab," pungkasnya.

Minggu, 22 Desember 2013

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

PDIP Kembali Teratas dalam Survey


Status PDIP yang menjelang pemilu ini jarang terkena kasus korupsi, membuat elektabilitasnya semakin naik. Kini, menurut survey, bahkan PDIP sudah berada di urutan pertama, unggul dari Golkar, dan semakin jauh meninggalkan Demokrat. Hal ini tentu membuat Partai Banteng kian pede menatap pemilu dan mengajukan calonnya untuk bertarung di pemilihan presiden 2014 nanti. Bagaimana dengan hasil lainnya? Langsung saja simak berita yang kami sadur dari Merdeka.com ini.

Survei: PDIP teratas, Demokrat turun drastis

Oleh: Muhammad Soleh

Merdeka.com - PDIP menempati posisi teratas dalam hasil survei yang dilakukan Pol-Tracking Institute jika pemilu digelar hari ini. Sementara, posisi kedua ditempati oleh Partai Golkar.

"Berdasarkan survei ini, PDIP sebesar 18,5 persen dan Golkar 16,9 persen mempunyai tingkat elektabilitas cenderung stabil dua digit," ujar Direktur Eksekutif Pol-Tracking Institute Hanta Yuda di Kuningan,Jakarta Selatan, Kamis (19/12).

Sementara itu, Partai Demokrat dan PKS menurun drastis jika dibandingkan dengan perolehan suara pada Pemilu 2009.

"Partai Demokrat menurun drastis dari 20,85 persen pada pemilu 2009 menjadi 8,8 persen, dan PKS dari 7,88 persen di Pemilu 2009 menjadi 2,9 persen," paparnya.

Sedangkan Partai Gerindra menduduki posisi keempat dengan 6,6 persen. Disusul PKB dengan 4,6 persen.

Untuk Partai Hanura sebesar 3,5 persen, NasDem 2,1 persen, PAN 2 persen, PBB 0,7 persen, dan PKPI sebesar 0,1 persen. Survei dilakukan pada 13 September 2013 hingga 11 Oktober 2013. Survei dilakukan secara serempak di 33 provinsi di seluruhIndonesia dengan sampel sebanyak 2010 responden.

Penarikan sampel survei menggunakan metode multi-stage random sampling dengan margin of error sebesar 2,19 persen. Sedangkan pengambilan data melalui wawancara tatap muka dengan kuesioner.

Sabtu, 21 Desember 2013

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Konvensi Capres Demokrat tidak Maksimal


Sebagai partai yang berkuasa di pemerintahan dengan 1/5 kursi, tentu Demokrat adalah partai yang seharusnya sangat diperhitungkan. Namun, kenyataan berkata lain, berbagai kasus korupsi yang melilit partai, konon membuat kepercayaan rakyat terhadap partai biru ini menjadi luntur. Fakta ini terlihat pada pagelaran konvensi Capres yang diselenggarakan oleh Demokrat, ternyata tidak maksimal dalam memberikan awareness kepada masyarakat. Meskipun kita melihat ada satu dua peserta yang rajin sekali muncul di berbagai media, namun bagi Demokrat, para peserta masih tidak maksimal dalam mengambil hati rakyat. Mampukah para peserta konvensi ini maju di Pemilihan Presiden 2014 mendatang? Mari kita tunggu. Sebelumnya, silahkan simak berita yang kami sadur dari Merdeka.com ini.

Peserta konvensi capres Demokrat layu, komite salahkan media


Oleh: Randy Ferdy Firdaus

Merdeka.com - Sejak mendeklarasikan diri pada bulan September lalu, 11 peserta konvensi capres Partai Demokrat tak terlihat maksimal dalam upaya meraih simpati rakyat. Pagelaran konvensi pun seakan layu sebelum berkembang.

Sekretaris Komite Konvensi Demokrat Suaidi Marasabessy pun mengakui jika ada persoalan di internal soal proses konvensi. Menurut dia, pihaknya kesulitan dalam hal menggaet media untuk mendukung pagelaran konvensi.

"Persoalannya kan karena masalah media, karena alat utama kami pasti media, kalau kami melakukan aktivitas tanpa media kan percuma juga, tapi kalau media ikut berperan kan pasti memberikan dampak yang sangat besar," ujar Suaidi saat dihubungi, Jumat (20/12)

Suaidi menjelaskan, komite saat ini sedang mempersiapkan debat kandidat para peserta konvensi. Hal ini akan dilakukan pada Januari 2014 mendatang.

"Konvensi nanti mulai tanggal 6 Januari. Pendalaman pada Januari, dialog dengan media," imbuhnya.

Meskipun mengalami kendala di media, Suaidi menegaskan jika 11 peserta konvensi masih terus berupaya mengambil simpati rakyat dengan cara masing-masing. "Kalau mereka ngotot menang. Buktinya pada turun ke daerah, kalau mereka bersikap pasrah, itu kan bagian dari upaya kami membangun tradisi bahwa kalah menang biasa," pungkasnya.

Kamis, 19 Desember 2013

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Anies Baswedan Sindir Metode Blusukan Jokowi


Anies Baswedan, tokoh yang sedang naik daun (salah satu programnya adalah Indonesia Mengajar yang telah menginspirasi ribuan pemuda Indonesia), baru-baru ini mengeluarkan pernyataan kontroversial. Dia yang sekarang mengikuti konvensi partai Demokrat, mengatakan sesuatu yang terkesan menyindir Jokowi, terutama terkait metode Blusukannya. Seperti apa lebih lengkapnya? Mari kita baca berita yang kami sadur dari Viva news ini.

Anies Baswedan: Saya Tak Mau Pencitraan dengan Blusukan

Oleh: Anggi Kusumadewi, Syahrul Ansyari

VIVAnews – Peserta konvensi calon presiden Partai Demokrat, Anies Baswedan, mengatakan tak akan blusukanala Jokowi demi memenangkan konvensi. Ia akan menggelarroad show berkeliling Pulau Jawa untuk menyosialisasikan program-programnya.

“Bukan blusukan. Saya akan datang untuk dengar, ngobrol, diskusi. Saya tidak mau pencitraan dengan blusukan,” kata Anies di Jakarta, Kamis 19 Desember 2013.

Rektor Universitas Paramadina itu mengatakan, langkah road show-nya itu terinspirasi Presiden RI pertama, Soekarno. “Saya ingin meniru Bung Karno saat berkeliling ke titik-titik wilayah di Indonesia. Beliau pidato ke masyarakat di banyak titik bukan untuk membuat kesan dekat dengan rakyat. Dia katakan, bersiap-siap untuk bergerak. Dia bukan datang untuk menyelesaikan masalah,” ujar Anies.

Anies tak keberatan dengan kritik berbagai pihak atas keputusannya mengikuti konvensi Demokrat – partai yang sejumlah kadernya tengah terlilit korupsi.

Kondisi serupa, kata Anies, pernah dialami Soekarno. “Dia banyak dikritik karena bekerja sama dengan Jepang,” ujarnya.

Anies mengatakan, dia bukan hanya akan mendengarkan rakyat, tetapi juga mengajak masyarakat berubah. Hal itu berbeda dengan blusukan yang menurut Anies memposisikan pemimpin sebagai penyelesai masalah masyarakat tanpa berusaha menggerakkan mereka.

“Saya tidak ingin jadi pemimpin setengah dewa. Saya tidak akan hadir untuk menyelesaikan masalah Anda. Ini masalah Anda, ini masalah saya, kita bergerak bersama,” kata dia.
0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Petinggi Partai Demokrat Galau?


Pada pemilu 2009 lalu, kita semua menjadi saksi akan kedigdayaan partai muda yang semakin melejit: Partai Demokrat. Dengan suara yang sangat dominan, partai Demokrat pun menjadi partai yang memimpin di legislatif dan eksekutif. Partai Demokrat adalah partai yang paling besar di medio 2009-2014 ini.

Namun, seiring berjalannya waktu partai demokrat semakin melemah saja. Berbagai skandal korupsi yang melingkupi kadernya, membuat partai ini semakin negatif di mata masyarakat. Sampai sekarang, elektabilitas partai Demokrat untuk pemilu 2014 terus anjlok menurut berbagai survey. Hal ini tentu menjadi kabar tak mengenakkan bagi partai, sehingga banyak pihak berpendapat bahwa petinggi partai demokrat sedang galau. Simak cerita lengkapnya dari berita yang dirilis oleh Kompas.com.

Elektabilitas Jeblok, Partai Demokrat Galau?

Oleh: Rahmat Fiansyah

AKARTA, KOMPAS.com - Pengamat komunikasi politik dari Universitas Pelita Harapan, Tjipta Lesmana, mengatakan bahwa para petinggi Partai Demokrat saat ini sedang galau. Pasalnya,  Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat yang menjadi kartu truf partai gagal meningkatkan elektabilitas partai.

"Sejak konvensi diluncurkan bukannya meningkat, elektabilitas Demokrat malah menurun," katanya di Jakarta, Rabu (18/12/2013).

Menurut Tjipta, selama hampir empat bulan sejak konvensi diluncurkan, konvensi tersebut tidak mendapatkan perhatian dari publik. Dari awal, ia pun mempertanyakan para peserta konvensi yang dinilai memiliki kualitas yang kurang mumpuni. Bahkan, kata Tjipta, beberapa orang yang maju sebagai peserta konvensi diminta oleh Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono.

"Ini enggak bagus buat demokrasi. Seharusnya yang maju adalah yang merasa mampu bukan disebabkan oleh big boss," ujarnya.

Ia juga menilai dalam beberapa bulan ke depan, tingkat elektabilitas partai pemenang pemilu 2009 akan ditentukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Semakin banyak kasus korupsi yang terbongkar, katanya, hal ini menyebabkan elektabilitas Demokrat akan semakin anjlok.

Dalam kesempatan yang sama, koordinator tim peneliti Reform Institute, Yudi Latif mengatakan masyarakat yang memilih Partai Demokrat pada pemilu 2009 telah kehilangan kepercayaannya. Hal ini, katanya, dapat terlihat dari survei yang dilakukan lembaganya yang menempatkan Dahlan Iskan (33,81 persen) dan Irman Gusman (6,47 persen) sebagai pilihan pemilih partai Demokrat terhadap peserta konvensi.

"Ada ketidakpercayaan terhadap orang lingkaran dalam Partai Demokrat, makanya mereka memilih orang luar, seperti Dahlan Iskan dan Irman Gusman. Bahkan, sebannyak 46 persen responden yang memilih Partai Demokrat memutuskan tidak memilih peserta konvensi," tandasnya.

    Blogger news

    Blogroll

    Categories

    Tentang Kami

    Directory berita tentang pemilu legislatif dan pemilihan presiden 2014