Peserta Konvensi Demokrat semakin gencar saja menunjukan usahanya untuk tampil di masyarakat. Setelah Dahlan Iskan dan Gita Wirjawan banyak bermunculan di media akhir-akhir ini. Terutama untuk yang nama kedua, dimana dia sudah cukup berhasil menghebohkan media sosial Indonesia lewat iklannya yang begitu banyak.
Sekarang, Anies Baswedan justru yang tampil dengan model kampanyenya yang unik. Setelah kemarin sempat muncul dengan pernyataan kontroversialnya yang mengatakan bahwa
blusukan adalah pencitraan. Kini Anies muncul dengan cara kampanyenya yang unik. Penasaran? Lihat saja di berita yang dilansir oleh
kompas.com ini.
Sepertinya, persaingan menuju
pemilihan presiden 2014 semakin menarik.
Hotel Berjalan dan Cara Anies Baswedan Berjumpa Rakyat
Oleh: Sabrina Asril
KOMPAS.com –
Dua unit bus karavan rombongan peserta konvensi calon Presiden Partai
Demokrat, Anies Baswedan, melaju cukup kencang di jalur Nagrek, Sabtu
(21/12/2013) malam. Bus ini tengah membawa Anies beserta rombongan
relawan dan wartawan bertolak dari Bandung menuju destinasi selanjutnya,
Tasikmalaya.
Di tengah perjalanan, hujan deras mengguyur kawasan
itu. Anies ketika itu tengah melakukan sesi wawancara dengan wartawan
di dalam bus khusus wartawan dan relawan. Sesi wawancara dimulai dengan
cerita Anies soal kakeknya, AR Baswedan yang merupakan pejuang
kemerdekaan.
Setelah itu, wartawan satu per satu mulai bertanya
soal perjalanannya kali ini yang menggunakan jalur darat, menjelejajahi
Pulau Jawa sejauh 3.000 kilometer. Dari tempat-tempat yang direncanakan
akan dikunjungi Anies, terlihat bahwa Anies tengah mendekatkan diri
dengan kalangan pesantren yang selama ini menjadi basis massa Nahdlatul
Ulama (NU). Hal ini cukup mengejutkan lantaran Anies bukanlah tokoh NU.
Kini, sudah ada dua tokoh dari NU yang hendak mengincar kursi RI 1 yakni
Ali Masykur Musa yang bersama Anies maju dalam konvensi, dan Mahfud MD
yang sudah mengklaim mendapat dukungan kyai-kyai NU dan juga Partai
Kebangkitan Bangsa (PKB).
Anies menjawab, dia hanya berusaha
mendekati semua kalangan. Yang terpenting, katanya, pesan kampanye
“turun tangan” bisa disebarkan ke semua kalangan, termasuk kalangan
santri yang juga para pemuda.
"Dari dulu memang saya seringnya
bekerja dengan pemuda. Maka, ini konsisten saya jalankan sekarang. Tidak
mungkin saya mengubah gaya saya, yang bukan jati diri saya sebenarnya,"
kata Rektor Universitas Paramadina ini. Dengan menyebarkan ide gerakan
turun tangan ke berbagai kalangan, Anies yakin akan timbul sebuah
gerakan besar untuk bersama-sama menyelesaikan masalah bangsa.
Ketika obrolan mulai hangat, kondisi jalan buruk membuat bus terus berguncang.
Apalagi, jalur Nagrek berkelok-kelok. “Ya beginilah kalau naik bus, terasa sekali infrastrukturnya tidak bagus,” ucap Anies.
Wawancara
terus berlangsung. Namun, satu per satu wartawan terlihat mulai
“mabuk”. Beberapa di antaranya memilih menengadahkan kepala ke atas, ada
pula yang langsung mengoleskan minyak kayu putih di tubuhnya. Satu dua
orang mulai silih berganti memasuki toilet dengan muka pucat. Anies yang
masih bugar saat itu, mulai melihat kondisi sudah tak kondusif lagi
untuk berbincang-bincang.
Apalagi, dua fotografer yang dibawa
Anies juga terlihat mulai kepayahan. Jika pertama, mereka berdiri tegap,
akibat jalanan yang berliku, kedua fotografer itu pun duduk dengan
tampang kuyu.
“Sudah mulai mabuk ya?” tanya Anies yang dijawab anggukan seisi bus.
Anies
memutuskan untuk diam, dan membalas pesan singkat yang masuk ke telepon
selulernya. Tak lama kemudian, Anies pun terlihat pusing. “Terasa betul
kalau sambil menulis,” ujarnya sambil merebahkan kepala di sofa dalam
bus. Setelah berdialog di Cipasung, Anies beserta rombongan melanjutkan
perjalanan.
Hambatan rupanya tak segera hilang. Bencana banjir
melanda jalur yang akan dilewati rombongan. Akibatnya, bus terpaksa
harus memutar ke jalur lain yang lebih jauh. Hal ini membuat beberapa
titik yang rencananya akan didatangi Anies dibatalkan.
Hotel berjalanGaya
blusukan Anies tidak mengenal hotel atau pun wisma penginapan. Selama
enam hari lima malam perjalanan berkeliling Jawa, tidak sekali pun bus
berhenti di hotel. Sebagian waktu bermalam dihabiskan di dalam bus
karavan.
Bus karavan ini bisa dibilang sebagai hotel berjalan
sepanjang perjalanan. Bus yang mengantarkan Anies beserta rombongan ini
juga cukup mewah. Di dalamnya terdapat dua buah sofa, satu buah kursi
pijat, dua tempat tidur model bunk bed, dan satu set meja dan kursi
untuk membaca atau makan. Bus ini juga dilengkapi dengan alat pemutar
DVD. Namun, fasilitas mewah ini tetap saja terasa kurang mana kala satu
unit bus disesaki sampai 20 orang.
Malam hari, tidak ada ruang
kosong tersisa, semua dipakai untuk tidur wartawan dan relawan. Kolong
sofa, hingga area depan toilet pun menjadi pilihan sebagai tempat tidur
dadakan. Demikian pula dengan bus karavan yang ditumpangi Anies. Anies
kerap tidur di kursi, sementara kamar tidur di dalamnya dipakai istri
dan keempat anaknya yang turut dalam perjalanan kali ini.
Memasuki
pagi hari, bus biasanya berhenti di rest area untuk sarapan dan
memberikan waktu kepada rombongan untuk mandi. Anies tak berusaha tampil
eksklusif. Mau tidak mau, dia harus menyesuaikan diri dengan kondisi
yang ada. Dia dan anak-anaknya ikut mengantri di toilet umum bersama
warga lain yang juga tengah menempuh perjalanan jauh. Hal ini terus
terjadi di hari-hari berikutnya.
Warga pun tak ada yang
mengenalnya. Mereka hanya terheran dengan pria yang sedang mengantri
memiliki wajah yang mirip dengan stiker besar yang ditempel di badan
bus.
Tidak kapokMeski kerap menemui
hambatan di perjalan dan mendapat fasilitas seadanya, Anies mengaku tak
kapok mengulangi kembali perjalanan jalur daratnya ke tempat-tempat lain
di luar jawa. Menurutnya, dengan berkeliling pakai jalur darat, membuat
dia dengan masyarakat yang akan didatangi lebih dekat.
Bahkan,
Anies sempat dicegat seorang warga yang baru saja membaca artikel
tentang ibunda Anies, Aliyah Rajasa di sebuah koran. Ketika itu, bus
Anies tengah melintas di Kediri saat hendak menuju makam Bung Karno di
Blitar. Bapak yang diketahui bernama Djoko Sunarno itu pun berteriak dan
melambaikan tangan. Anies menggubrisnya dengan turun dari bus, dan
menghampiri pria setengah baya itu di pagar rumahnya.
Cara
seperti ini, sebut Anies, lebih mengesankan dibandingkan berkampanye
dari satu titik ke titik lainnya menggunakan pesawat terbang. “Kita
tidak akan pernah tahu buruknya fasilitas, kendala-kendala lain yang
dirasakan masyarakat. Dalam perjalanan ini, saya banyak melihat dan
memperhatikan, dan juga merasakan,” katanya.
Kampanye dengan cara
seperti ini, ucap Anies, akan terus diterapkannya ke wilayah lain.
“Semakin sederhana transportasi yang kita pakai, maka kita akan semakin
mendekati pada realitas yang ada di masyarakat. Rencananya saya akan
pakai cara ini ke wilayah lain. Misalkan, ke Indonesia Timur pakai kapal
laut, atau di Kalimantan pakai moda transportasi sungai,” imbuh Rektor
Paramadina ini.