Senin, 30 Juni 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

JK Kelelahan Setelah Debat dengan Hatta?

Acara debat calon wakil Presiden yang berlangsung pada Minggu malam kemarin memang seru dan ketat. Masing-masing calon memaparkan argumentasinya, dan mencoba meyakinkan masyarakat bahwa mereka adalah orang yang paling tepat untuk mengatasi masalah negeri ini. Baik JK maupun Hatta sama-sama mengeluarkan kemampuan terbaiknya.

Siapa yang menang? Andalah yang menentukannya. Namun ternyata, ada kisah sedih yang terjadi setelah debat. Karena ternyata, setelah debat JK harus dilarikan ke rumah sakit. Dan itu membuat kita yang membaca ini semua berdoa agar dia baik-baik saja. Langsung saja, kita baca berita yang dilansir oleh Tempo.co ini:

Usai Debat dengan Hatta, JK Dirawat di Rumah Sakit

Oleh: Erwan Hermawan

TEMPO.COJakarta - Calon wakil presiden dari poros Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan, Muhammad Jusuf Kalla, menjalani perawatan seusai debat dengan cawapres Hatta Rajasa tadi malam. JK di rawat di Rumah Sakit Abdi Waluyo, Menteng, Jakarta Pusat.

Pada Senin, 30 Juni 2014, konsultan pemenangan pasangan Joko Widodo-Jusuf Kalla yang juga  CEO PolMark, Eep Saefulloh Fatah, mengatakan, "Cuma istirahat. Nanti ada yang akan memberi tahu." 

Mantan Menteri Peridustrian Fahmi Idris menuturkan JK masuk rumah sakit seusai debat. JK, kata dia, masuk rumah sakit atas anjuran dokter. "Keletihan fisik saja," ujarnya.

Meski begitu, ia memastikan kondisi JK relatif sehat, hanya butuh istirahat karena kelelahan. "Secara keseluruhan sehat. Tapi memang beliau tidurnya kurang. Beliau tidur satu-dua jam per harinya," ujar mantan anggota Dewan Pertimbangan Partai  Golkar itu.

Ia memperkirakan jadwal kampanye yang padat sebagai penyebab JK kelelahan. "Coba bayangkan, pukul 6 pagi berangkat untuk kampanye. Berarti minimal pukul 5 sudah bangun. Pulang ke rumah pukul 2 malam. Siapa pun akan kolaps dan keletihan. Fisik berat pikiran juga berat," tuturnya.

Namun demikian, ia memastikan JK tidak mengalami penyakit serius. "Darah tinggi tidak ada dan penyakit jantung juga tidak ada," kata Fahmi. 

Untuk penjelasan lebih lanjut, ujar dia, akan ada konferensi pers terkait dengan kondisi JK. "Pukul 3 sore nanti akan ada penjelasan soal ini," tuturnya.

JK mengkuti debat yang digelar Komisi Pemilihan Umum di Hotel Bidakara, Ahad malam, 29 Juni 2014. Debat yang dimoderatori Wakil Rektor Universitas Gadjah Mada Prof Dr Dwikorita Karnawit itu bertemakan "Pembangunan Sumber Daya Manusia serta Ilmu Pengetahuan dan Teknologi". 
0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Romantis, Dukungan Titi untuk Prabowo


Prabowo Subianto dan Titi Soeharto memang sudah resmi bercerai. Tapi, benih-benih cinta masih terlihat jelas diantara keduanya. Setidaknya, hal itu terlihat dari sikap keduanya setiap kali ditanya apakah akan rujuk atau tidak.

Tidak hanya itu, dalam beberapa kesempatan Titi juga sudah mengungkapkan dukungannya untuk Prabowo. Sebuah sikap yang tentu saja terkesan romantis dan indah. Kali ini, dukungan dari Titi ini tidak hanya mengatasnamakan pribadi, tapi juga banyak orang lain. Siapa saja mereka? Selengkapnya, baca saja berita yang kami sadur dari Tempo.co ini:

Titiek: Keluarga Cendana 100% Dukung Prabowo-Hatta

Oleh: Tika Primandari

TEMPO.COJakarta - Mantan istri calon presiden nomor urut satu Prabowo Subianto, Titiek Soeharto memastikan keluarga Cendana mendukung pasangan Prabowo dan Hatta Rajasa. "Seratus persen dukung Prabowo-Hatta, tak ada yang tercecer," ujar Titiek usai debat antar calon wakil presiden di Hotel Bidakara, Ahad, 29 Juni 2014.

Ini adalah kali ketiga Titiek, putri mantan Presiden Soeharto, menonton secara langsug debat antara calon presiden dan wakil presiden. Menurut Titiek, jawaban yang diberikan oleh Hatta sangat baik. "Cawapres kita luar biasa. Untuk bangsa Indonesia butuh yang kayak beliau," ujar dia. 

Titiek yang mengenakan atasan putih dan kain batik orange duduk di samping Prabowo selama debat berlangsung. Meski begitu, tak sekalipun terlihat keduanya mengobrol. Prabowo tampak serius menyaksikan pemaparan dari Hatta Rajasa dan rivalnya, Jusuf Kalla. Titiek juga tampak serius menyaksikan Hatta Rajasa berbicara, namun saat giliran JK berbicara, beberapa kali Titiek terlihat asik menengok ponselnya. 
Debat bertema Pembangunan Sumber Daya Manusia dan Ilmu Pengetahuan dan Teknologi ini adalah debat keempat yang dihelat oleh KPU. Debat yang dilaksanakan di Hotel Bidakara ini diundur 30 menit dari jadwal sebelumnya dengan alasan agar peserta debat dan masyarakat dapat melaksanakan ibadah taraweh dulu. Debat antar cawapres ini dimoderatori oleh Guru Besar Universitas Gajah Mada, Prof. Dwikorita Karnawati dan disiarkan oleh RCTI, MNC TV, dan Global TV.

Jumat, 27 Juni 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Komitmen Prabowo untuk NU

Dalam kesempatan lanjutan kampanye para calon presiden, kita menyaksikan integritas dan janji besar dari seorang pemimpin semakin banyak yang tersebar. Salah satunya adalah komitmen dari Prabowo Subianto, calon presiden dengan dukungan partai yang besar, kemarin baru saja terlihat.

Apakah komitmen dari Prabowo untuk NU itu? Mari kita simak petikan wawancara dengan Said Aqil yang dilansir di situs kompas.com ini:

Said Aqil: Prabowo Siap Saya Panggil kalau Menyimpang Jadi Presiden

Oleh: Ihsanuddin

JAKARTA, KOMPAS.com — Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama Said Aqil Siradj mengapresiasi calon presiden Prabowo Subianto yang mau menyempatkan diri untuk berkunjung ke pondok pesantren yang dipimpinnya. Menurut Said Aqil, hal itu menandakan bahwa Prabowo adalah sosok yang taat dan tidak akan menyimpang dari ajaran Islam bila terpilih menjadi presiden.
"Pak Prabowo sebagai capres pernah mengatakan begini, 'saya siap diberi masukan dan nasihat oleh kiai. Saya siap dipanggil kiai kalau nanti jadi presiden dianggap menyimpang'. Siap ditegor kiai itu luar biasa, pernyataan yang sangat luar biasa," kata Said Aqil sesaat sebelum menyambut kedatangan Prabowo di Pondok Pesantren Kempek di Palomamanan, Cirebon, Jawa Barat, Jumat (27/6/2014) siang.
Menurut Said Aqil, dalam acara ini dia telah mengumpulkan tokoh-tokoh Islam di Jawa Barat.

"Karena saya orang sini. Jadi agendanya silaturahim tatap muka antara capres nomor satu dengan para kiai pesantren se-Jabar," ujarnya.
Said Aqil berharap, para kiai yang hadir bisa mendoakan Prabowo agar cita-citanya menjadi presiden bisa terkabul. Dia mengaku selalu berdoa untuk kemenangan Prabowo.
"Saya meminta, memohon doa restu agar mendoakan Prabowo berhasil, sukses. Secara garis organisasi NU tidak boleh jadi kendaraan politik pendukung capres, (dukungan) pribadi-pribadi," ucap dia.

Selasa, 24 Juni 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Dosa Masa Lalu Prabowo Hanyalah Konspirasi Lawan?


Prabowo adalah capres yang memiliki peluang besar untuk memenangi pemilu kali ini. Dengan prestasinya yang membanggakan negeri, sekaligus elektabilitasnya yang semakin meningkat, membuat Prabowo menjadi capres yang sangat diperhitungkan untuk menang.

Namun, ada sedikit ganjalan yang menyerang Prabowo, yaitu terkait 'dosa masa lalunya' yang terus-terusan dijadikan senjata oleh para pendukung lawannya. Prabowo terus saja dianggap sebagai penjahat masa lalu. Benarkah hal itu?

Well, mantan perwira ini memiliki pendapatnya (kami ambil dari republika.co.id):

Mantan Wakil KSAD: Ada Konspirasi Perwira di DKP Ingin Jatuhkan Prabowo
Oleh: Erik Purnama Putra

REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA - Mantan kepala staf umum TNI Letjen (Purn) Johanes Suryo Prabowo menduga, ada konspirasi sejumlah perwira ABRI (TNI) yang masuk dalam Dewan Kehormatan Perwira (DKP), untuk menjadikan Prabowo Subianto sebagai kambing hitam serangkaian peristiwa 1998.

"Ironisnya ketika DKP berjalan, ada tim gabungan pencari fakta (sudah membuka hasil investigasinya), namun Prabowo (tetap) dihukum administrasi. Seolah ada konspirasi perwira dalam DKP," kata Suryo dalam acara 'Eksaminasi Publik Terhadap Keputusan Dewan Kehormatan Perwira' di Jakarta, Senin (23/6).

Pernyataan Suryo itu dilontarkan menyusul adanya upaya sejumlah pihak yang mulai memperdebatkan kembali surat rekomendasi DKP terkait pemberhentian Prabowo dari institusi militer. Upaya itu dinilai bernuansa politis untuk menjegal Prabowo dari kontestasi Pilpres 2014.

Suryo mengatakan, dirinya tidak ingin menuduh siapa pun. Dia hanya menegaskan bahwa menteri sekretaris negara Muladi kala itu juga telah mengeluarkan pernyataan yang intinya menyatakan mantan panglima Kostrad tersebut tidak terkait dengan penculikan 13 aktivis, penembakan mahasiswa Trisakti, dan kerusuhan Mei 1998.

"Saya tidak menuduh, saya hanya mencoba mempercayai naluri dan nalar saya. Kalau betul Prabowo sejahat yang ditudingkan, waktu itu dia seharusnya tidak akan boleh ke luar negeri, tapi waktu itu dia ke luar negeri," kata mantan wakil kepala staf TNI Angkatan Darat (KSAD) itu.

Selain itu, Suryo juga menganalisis bahwa jika benar Prabowo dalang serangkaian peristiwa 1998, seharusnya saat pergi ke luar negeri, tidak ada lagi kerusuhan. Faktanya kerusuhan tetap terjadi di beberapa tempat di Indonesia. "Sehingga saya tidak habis pikir kalau Prabowo harus diminta-minta melapor ke Komnas HAM," ujarnya.

Ketua Ikatan Alumni UI (Iluni) Hariadi Darmawan mengatakan, terlepas dari terlibat atau tidaknya Prabowo dalam serangkaian peristiwa kelam 1998, ia tidak setuju apabila masa lalu Prabowo dibandingkan dengan mulusnya perjalanan karier Jokowi, hanya untuk kepentingan Pilpres 2014.
Menurut Hariadi, hal itu tidak adil karena tidak sebanding. "Bowo (Prabowo) sudah berjuang untuk bangsa ini, anak buah dia habis di Timor-Timor, lalu kita caci maki dan membandingkannya dengan 'kebersihan' Jokowi, itu tidak fair," ujar Hariadi.

Sebagai pelaku sejarah, Hariadi menekankan bahwa dirinya adalah orang yang berseberangan dengan Prabowo pada pengujung Orde Baru. Kala itu dia turut serta bersama ribuan mahasiswa lain, mendesak mundurnya Soeharto dari kursi kepresidenan.

Tetapi dia mengaku tidak sudi apabila dugaan keterlibatan Prabowo dalam penculikan aktivis 1998 yang belum pasti kebenarannya itu lantas dijadikan peluru untuk menjatuhkan Prabowo dalam kontestasi Pilpres 2014.
"Apa yang terjadi pada masa lalu itu bagian dari proses pembentukan sebuah bangsa. Tidak bisa dibandingkan dengan situasi saat ini. Saya tanya Jokowi itu sudah melakukan apa untuk bangsa ini, paling hanya menertibkan Pasar Tanah Abang," kata Hariadi.

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Ternyata, Motif Kotak-kotak Bukan Original Milik Jokowi!


Kita tahu, bahwa baju motif kotak-kotak adalah salah satu baju yang identik dengan kampanye Jokowi. Hal itu terlihat dari seringnya para pendukung Jokowi dengan bangganya mengenakan baju kotak-kotak dan berkampanye.

Padahal, menurut pengakuan orang ini, baju kotak-kotak bukanlah ide orisinil dari Jokowi, melainkan ada andil dari partai lain juga, yaitu Gerindra. Hal itu memang terbukti dari Pilgub Jakarta kemarin, di mana Ahok terlihat sangat percaya diri dengan pakaian kotak-kotaknya.

Untuk lebih jelasnya, mari kita lihat berita yang kami sadur dari Tempo.co ini:

Tim Prabowo: Motif Kotak-kotak Ada Andil Gerindra

Oleh: M. Andi Perdana

TEMPO.COJakarta - Tim pemenangan calon presiden dan wakil presiden Prabowo Subianto-Hatta Rajasa menyesalkan penggunaan motif kotak-kotak pada baju calon presiden Joko Widodo. Alasannya, motif tersebut bukan semata-mata milik Jokowi. 

"Waktu pemilihan Gubernur-Wakil Gubernur DKI Jakarta kemarin kan pakai kotak-kotak juga," ujar anggota tim pemenangan Prabowo-Hatta, Habiburokhman, kepada Tempo, Selasa, 17 Juni 2014. 

Ia menyatakan partainya, Gerakan Indonesia Raya, punya andil dalam penggunaan baju bermotif kotak-kotak yang dikenakan Jokowi dan, calon Wakil Gubernur Jakarta saat itu, Basuki Tjahaja Purnama.

Motif kotak-kotak tersebut kini menjadi ikon Jokowi. Dia juga menyayangkan motif kotak-kotak kerap digunakan dalam kampanye terselubung. Salah satunya, kata dia, penggunaan oleh obat Bintang Toedjoe dalam iklan di televisi.

"Kami akan laporkan ke Bawaslu (Badan Pengawas Pemilu) karena penggunaan motif tersebut dalam iklan," ujarnya. Menurut dia, dalam iklan tersebut ada indikasi dukungan terhadap Jokowi. "Padahal itu iklan komersial. Bila memang ini jadi produk Jokowi, ada pelanggaran di sana," ujarnya. 

Tim Prabowo-Hatta akan melaporkan iklan tersebut ke Bawaslu siang ini dengan tuduhan melanggar Pasal 53 ayat 1 Undang-Undang Nomor 42 Tahun 2008 tentang Pemilihan Umum Presiden dan Wakil Presiden.
0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Pemred Tempo Angkat Suara Soal Tudingan Fadli Zon


Seperti kita tahu, belakangan ini, muncul banyak tudingan bahwa media-media yang ada di Indonesia sudah tidak netral lagi. Hal itu setidaknya terlihat jelas di bagian media penyiaran, khususnya televisi. Saat melihat televisi kita akan melihat keberpihakan salah satu stasiun terhadap calon (ya, dalam hal ini kita sedang membicarakan berita capres dan cawapres).

Lalu, bagaimana dengan media cetak? Sejujurnya, kecurigaan itu tetap ada. Namun pemred Tempo memiliki jawaban sendiri atas tudingan itu. Tudingan yang dikatakan oleh Fadli Zon bahwa Tempo mulai tidak netral dalam memberitakan sebuah isu.

Seperti apa tanggapan pemred tempo? Mari kita baca bersama berita yang dilansir oleh Tempo.co ini:

Jawab Tudingan Fadli Zon, Pemred: Tempo Independen

Oleh: Singgih Soares

TEMPO.COJakarta - Pemimpin Redaksi Majalah Tempo Arif Zulkifli menampik tudingan Wakil Ketua Umum Partai Gerindra Fadli Zon yang menyebut Tempo telah menjadi media partisan dan tidak berimbang dalam memberitakan calon presiden Prabowo Subianto. Arif menyatakan Tempoadalah media yang menjunjung tinggi asas independensi media.

"Pengertian independen adalah keputusan redaksi, tidak bisa diintervensi siapa pun. Rapat adalah pemegang kekuasaan tertinggi di Tempo," ucap Azul, sapaan akrabnya, ketika dihubungi, Selasa 24 Juni 2014.

Kemarin, di rumah pemenangan koalisi Merah-Putih, Rumah Polonia, Jalan Cipinang Cempedak, Jakarta Timur, Fadli menyatakan porsi pemberitaan Tempo tidak berimbang. Dari pemilihan kata hingga foto, menurut Fadli, menunjukkan keberpihakan.

Tidak sampai di situ, Fadli juga menyoroti majalah Tempo yang dalam sebuah editorialnya tidak menguntungkan Prabowo. Yang dimaksud Fadli Zon adalah edisi dengan sampul berjudul: "Palagan Terakhir Prabowo".

Editorial Tempo, menurut Arif, merupakan sikap redaksional. Pembaca, ia meneruskan, boleh saja kecewa terhadap isi editorial, tapi itu adalah hak media. "Yang bisa dipersoalkan adalah isi berita, misalnya, jika tidak cover both side," ujar Arif.

Begitu pula sebaliknya, Arif menyatakan, menjadi hak setiap orang untuk menilai sebuah media partisan atau tidak partisan. Secara umum, ia menegaskan, pembaca mendukung Tempo dan sikap editorialnya.

"Jika kurang jelas, Fadli Zon silahkan membaca timeline saya di Twitter dengan hastag #netral. Di sana, saya jelaskan tentang beda independen dan netral," ujar Arif.

Jumat, 20 Juni 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

WOW! Jokowi Juga Bisa Tersinggung!


Jokowi yang selama ini erat sosoknya sebagai orang Solo yang ramah dan mudah melupakan kesalahan orang, ternyata juga manusia. Setidaknya, hal itu terlihat dari hasil wawancaranya ketika berkampanye dulu.

Ketersinggungan ini tidak jauh dari Prabowo, rivalnya menjelang Pemilihan Presiden 2014 yang melakukan hal yang sepertinya tidak disukai oleh Jokowi.

Kejadian ini terjadi pada waktu debat capres kedua dilaksanakan. Dan apakah itu cukup berpengaruh terhadap hasil pilpres besok? Kita lihat saja. Sekarang, mari kita cari tahu dulu, apa yang membuat Jokowi tersinggung? Simak berita yang kami sadur dari Tempo.co ini:

Cium Pipi Tak Disambut Prabowo, Jokowi Tersinggung

Oleh: Ananda Teresia

TEMPO.COJakarta - Calon presiden dari poros koalisi PDI Perjuangan, Joko Widodo, mengaku tersinggung ketika Prabowo Subianto tidak melayani cium pipi sebelum debat capres kedua yang berlangsung Ahad, 15 Juni 2014. Dalam rekaman video, Prabowo terlihat tidak meladeni tawaran cium pipi dari Jokowi.

"Kalau kamu tersinggung atau tidak digituin? Kalau kamu punya perasan pasti tersingggung dan saya kan punya perasaan," katanya di sela-sela kampanye di Subang, Selasa, 17 Juni 2014.

Jokowi mengatakan kejadian tersebut terjadi di sebuah ruangan sebelum keduanya masuk ke arena debat. Menurut Jokowi, dia hanya menawarkan cium pipi yang kemudian ditolak. Setelah itu, tidak ada interaksi apa pun antara Jokowi dan Prabowo. "Jadi kalau cipika-cipiki saja tidak. Kenapanya ya tanya sana dong, masak tanya saya. Tidak ngobrol sama sekali," katanya.

Sebelumnya, stasiun televisi Metro TV menayangkan adegan Prabowo yang masuk ke dalam ruangan sebelum debat calon presiden di Hotel Gran Melia berlangsung Ahad lalu. Joko Widodo yang sudah ada dalam ruangan ini kemudian menyambut Prabowo dan berjabat tangan sambil menunduk dan mencium pipi Prabowo. Namun Prabowo tampak langsung berjalan dan meninggalkan Jokowi.

    Blogger news

    Blogroll

    Categories

    Tentang Kami

    Directory berita tentang pemilu legislatif dan pemilihan presiden 2014