Tampilkan postingan dengan label Survey. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Survey. Tampilkan semua postingan

Selasa, 07 Januari 2014

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Pandangan Prabowo Mengenai Survey


Saat ini, rakyat Indonesia dan media sudah paham betul, bahwa teknologi dan keilmuwan telah sebegitu canggihnya. Imbas terbesar untuk dunia politik dari kedua hal itu adalah: pada survey yang semakin lama semakin akurat. Kita bisa melihat, bagaimana quick count menjadi jalan keluar bagi warga yang tidak sabar untuk mengetahui bagaimana hasil pemilu yang membutuhkan waktu lama untuk diproses. Awalnya tidak banyak yang percaya, namun begitu hasil resmi dari KPU keluar, semua mata terbelalak. Quick Count menampilkan urutan yang sama! Meskipun ada beberapa persen perbedaan pada jumlah suara, namun hal itu tidak terlalu berarti. Artinya, kekuatan survey dan analisis di Indonesia sudah maju. Hal ini pulalah yang mendorong banyak orang percaya akan hasil dari survey yang sudah dilakukan. Terkait apa hasilnya, marilah kita kesampingkan dahulu, bukan disitu fokus tulisan ini.

Kenyataannya, setiap tokoh politik, apalagi yang jelas-jelas bertarung di pemilu 2014 (dan mungkin juga pemilihan presiden 2014) memiliki pendapat tersendiri tentang survey itu. Memang, sikap politisi terhadap survey akan mempengaruhi sikap dan sentimen pendukung loyalnya, apalagi jika hasil survey kurang menguntungkan untuk pihaknya. Dan dalam hal ini, Prabowo Subianto juga mengeluarkan pendapatnya. Apa pendapatnya? Simak saja di dalam berita yang kami sadur dari gatra news ini.


Prabowo Subianto: Hasil Survei Bukan Yang Utama‏

Oleh: WN

Jakarta, GATRAnews - Ketua Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto menilai hasil survei bukanlah patokan bagi sebuah partai untuk bisa memenangi pemilihan umum (pemilu) 2014 mendatang. Yang terpenting menurutnya adalah bagaimana cara agar bisa memenangkan hati rakyat, dengan hal itu sudah dapat dipastikan sebuah partai bisa memenangi pemilu.

"Pemenang Pemilu bukan berdasarkan survei. Hasil survei itu kan bisa dibayar, Yakinkan rakyat, sehingga rakyat percaya Gerindra bisa pimpin negara ini," kata Prabowo di lapangan sepakbola Nusantara Polo Club, Kranggan, Bogor, Sabtu (28/12).

Melihat hal tersebut, Prabowo meminta kepada seluruh kader maupun calon anggota legislatif agar bisa meyakinkan masyarakat mengenai program-program yang ditawarkan oleh Gerindra. "Saya tegaskan, Caleg Gerindra untuk turun ke rakyat," tukasnya.

Senin, 30 Desember 2013

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Prabowo Tak Layak Jadi Capres?


Meskipun memiliki pengikut fanatik, ternyata bukan berarti Prabowo lantas akan mudah melenggang sebagai Capres pada pemilihan presiden 2014 nanti. Ada sebuah penelitian yang ternyata menjadikan Prabowo sebagai pihak yang ditolak pencalonannya. Hal ini sangat mungkin dipengaruhi oleh sepak terjangnya di masa orde baru yang lama. Salah satu yang paling santer mengenai dirinya adalah: kasus penculikan mahasiswa (yang sampai saat ini belum ada bukti nyata di pengadilan).

Lalu, apakah lantas Prabowo memang tak layak menjadi Capres? Mari kita simak berita yang dilansir oleh tempo online ini.

Penolakan Prabowo sebagai Capres Tinggi

Oleh: Amri Mahbub

TEMPO.CO, Jakarta - Hasil survei Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia menyebutkan Ketua Umum Dewan Pembina Partai Gerindra, Prabowo Subianto, merupakan tokoh yang mendapatkan persentase penolakan tertinggi sebagai calon presiden 2014. "Dia mendapatkan angka 20 persen dari 61 pakaratau opinions leader yang bergerak di bidangnya,"

Pasalnya, menurut survei tersebut, Prabowo dianggap tidak memiliki integritas moral dan kompetensi yang baik. Dirinya pasti akan selalu dikaitkan dengan kejadian-kejadian masa lalu yang pernah dilakukannya. Selain itu, Prabowo juga dianggap tidak impresif antara pencitraan dan eksekusi di lapangan.

Menanggapi hal tersebut, pengamat politik dari UIN Syarif Hidayatullah, Gungun Heryanto, berpendapat alasan tersebut masuk. Pasalnya, Prabowo tidak optimal dalam mencitrakan dirinya. "Meski ekonomi kerakyatan yang diusungnya menyentuh, tapi dia kurang konsisten dalam melaksanakannya," kata dia.

Selain Prabowo, nama Rhoma Irama dan Aburizal Bakrie juga merupakan tokoh yang banyak ditolak sebagai capres. Keduanya mendapat angka 18 persen. Di bawah mereka ada nama Megawati yang berada pada level 7 persen. Nama Prabowo Edi dan Wiranto pun 'ditolak' pada angka persentase 3 persen. Jumlah 31 persen sisanya memilih nama-nama lainnya.

Nama-nama tersebut muncul dari pertanyaan terbuka tentang survei 'Mencari Lawan Jokowi'. Survei tersebut juga menghasilkan lima nama tokoh alternatif yang mungkin bisa menjadi 'lawan' Joko Widodo di bursa calon presiden 2014. Yakni Wali Kota Surabaya Tri Rismaharini, Wakil Gubernur DKI Jakarta Basuki T. Purnama, Anies Baswedan, CEO Trans Corp Chairul Tanjung, dan Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi Abraham Samad.

Minggu, 29 Desember 2013

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Alasan Elektabilitas Jokowi Bisa Tinggi


Sebagai sosok yang belum jelas diusung partainya untuk menjadi capres, nama Jokowi terbilang fenomenal. Hampir semua survey menempatkan dirinya sebagai calon presiden yang paling kuat di tahun 2014 ini. Hal ini tentu membuat orang bertanya-tanya, mengapa hal itu bisa terjadi? Bagaimana mungkin seorang pria kurus asal Solo ini mendadak menjadi orang paling diidolakan di Indonesia? APa yang membuatnya layak menjadi pemenang pemilihan presiden 2014 nanti? Ternyata, vivanews sudah menulis berita yang mungkin bisa menjadi jawaban dari pertanyaan-pertanyaan di atas.

Survei: Pemilih Pemula Pilih Jokowi Karena Media Darling

Oleh: Suryanta Bakti Susila, Daru Waskita

VIVAnews - Gubernur DKI Jakarta, Joko "Jokowi" Widodo kembali menancapkan dominasinya dalam survei elektabilitas calon presiden. Survei Jurusan Ilmu Pemerintahan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY) yang dirilis hari ini, Kamis 26 Desember 2013,  menunjukkan itu.

Jokowi meraup dukungan 57% responden survei yang melibatkan 900 pelajar berusia 17 tahun ke atas dari 42 Sekolah Menengah Atas di Yogyakarta itu. Sri Sultan Hamengku Buwono X berada di posisi kedua dengan 8,9% disusul Prabowo Subianto sebesar 6,3% dan Aburizal Bakrie sebanyak 5,1%. 

Nama lain yang sudah sering keluar dalam bursa di media seperti Megawati Sukarnoputri, Surya Paloh, Dahlan Iskan memperoleh elektabilitas di bawah 4 persen.

“Pemilih pemula di Yogyakarta ini menjatuhkan hati terhadap sosok Jokowi tidak lepas dari sosok Jokowi yang kini menjadi “media darling” sehingga setiap kegiatan yang dilakukan oleh mantan Wali Kota Solo ini mendapat hati di media,” kata Ketua Tim Riset Ilmu Pemerintahan, UMY Ridho Al-Hamdi di Yogyakarta.

Dijelaskannya, survei itu menggunakan metode purposive sampling melibatkan 900 pelajar dengan usia 17 tahun ke atas dari 42 SMA yang di DIY dengan margin of error sebesar 10%. Sebanyak 83,4% responden menyatakan akan menggunakan hak pilihnya pada pemilihan umum presiden 2014 mendatang.

Survei itu juga memotret tentang Indek Kepercayaan Pemilih Pemula (IKKP) terhadap lembaga negara yang berskala nasional baik pemerintah maupun swasta menunjukkan IKKP tertinggi hanya tertuju kepada KPK dan Indek terendah ditujukan kepada dua lembaga yaitu DPR dan partai politik.

“Kenapa IKKP kepada kedua lembaga tersebut sangat rendah karena banyak korupsi yang terjadi di DPR baik yang melibatkan anggota DPR yang masih muda hingga yang sudah senior," katanya.

Menurut Ridho, skandal seks yang terungkap dan dilakukan oleh sesama anggota DPR maupun dengan orang diluar anggota DPR juga memengaruhi. "Banyak juga partai yang terjadi konflik didalam tubuhnya sendiri seperti PKB, Demokrat dan beberapa partai lainnya,” ujarnya.

Sementara riset sumber informasi yang diperoleh oleh pemilih pemula tentang pemilu berasal dari televisi sebanyak 809 responden, media cetak sebanyak 440 responden menyusul internet sebanyak 391 responden, keluarga 386 responden, radio sebanyak 157 responden dan tokoh politik sebanyak 94 responden.

“Karena televisi dan media cetak paling banyak dipilih oleh responden memberikan informasi tentang pemilu maka diharapkan benar-benar memberikan informasi yang akurat, berimbang dan edukatif agar generasi muda memiliki pemahaman yang positif tentang demokrasi,” ujarnya.

Dari hasil riset yang dilakukan oleh Ilmu Pemerintahan UMY, Ridho Al-Hamdi ada beberapa masukan kepada seluruh pemegang kebijakan dalam pemilu seperti KPU, Bawaslu dan lembaga independen termasuk partai polik untuk bisa memberikan pendidikan politik yang baik kepada generasi muda.

“Hal yang sama juga berlaku untuk pihak sekolah agar memberikan pendidikan kewarganegaraan yang tepat kepada para pelajar agar mereka dapat menjadi warga negara yang nbaik dan positif terhadap segala hal,” ujarnya.

Senin, 23 Desember 2013

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Survey Charta Politica Tempatkan Jokowi Sebagai Capres Idaman


Nama Jokowi semakin melambung menjelang pemilu 2014 yang sudah semakin dekat. Sekali lagi, survey menempatkan namanya sebagai calon presiden idaman di 2014 ini. Nama-nama besar lainnya harus menerima fakta bahwa mereka berada di bawah Jokowi menurut survey ini.

Meskipun kepastian Jokowi diajukan oleh PDIP masih sangat kecil, mengingat Megawati masih cukup berambisi untuk kembali maju sebagai capres di pemilihan presiden 2014 besok. Namun, dalam berbagai survey, harapan masyarakat menunjukan kalau Jokowi seharusnya maju dalam pilpres mendatang. Untuk lebih lengkapnya, silahkan baca berita yang kami sadur dari detiknews ini.

Survei Charta Politika: Jokowi Capres Idaman, Mega Terjun Bebas

 Oleh: Ahmad Toriq

Jakarta - Lagi-lagi survei capres menempatkan Jokowi sebagai juara. Untuk kelas cawapres, Jusuf Kalla menjadi yang terdepan.

Lembaga Survei Charta Politika Indonesia merilis hasil survei elektabilitas kandidat capres-cawapres dan partai. Rilis hasil survei bertajuk Meneropong Pemilu 2014 Berdasarkan Survei ini digelar di press room Gedung DPR, Senayan, Jakarta, Senin (23/12/2013).

Survei skala nasional ini digelar pada 28 November - 6 Desember 2013 melalui wawancara tatap muka. Responden adalah mereka yang berusia di atas 17 tahun.

Jumlah sampel pada survei ini sebesar 1.200 responden dengan margin of error sebesar 2,83 persen dan tingkat kepercayaan 95 persen.

Hasilnya, Jokowi berada di puncak peringkat capres paling potensial. Dia diikuti oleh Prabowo dan Aburizal Bakrie. Di mana posisi Megawati?

Elektabilitas Mega disurvei menurun drastis. Mega duduk di peringkat buncit. Elektabilitasnya merosot jauh jika dibandingkan dengan survei yang digelar Charta pada November 2012 lalu yang mencapai 8,5 persen. Kini elektabilitas Ketum PDIP itu hanya 2,8 persen.

Berikut hasil survei capres Charta Politika:

1. Jokowi 38,4%
2. Prabowo Subianto 11,2%
3. Aburizal Bakrie 8,3%
4. Jusuf Kalla 5,4%
5. Wiranto 5,2%
6. Megawati 2,8%


Minggu, 22 Desember 2013

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

PDIP Kembali Teratas dalam Survey


Status PDIP yang menjelang pemilu ini jarang terkena kasus korupsi, membuat elektabilitasnya semakin naik. Kini, menurut survey, bahkan PDIP sudah berada di urutan pertama, unggul dari Golkar, dan semakin jauh meninggalkan Demokrat. Hal ini tentu membuat Partai Banteng kian pede menatap pemilu dan mengajukan calonnya untuk bertarung di pemilihan presiden 2014 nanti. Bagaimana dengan hasil lainnya? Langsung saja simak berita yang kami sadur dari Merdeka.com ini.

Survei: PDIP teratas, Demokrat turun drastis

Oleh: Muhammad Soleh

Merdeka.com - PDIP menempati posisi teratas dalam hasil survei yang dilakukan Pol-Tracking Institute jika pemilu digelar hari ini. Sementara, posisi kedua ditempati oleh Partai Golkar.

"Berdasarkan survei ini, PDIP sebesar 18,5 persen dan Golkar 16,9 persen mempunyai tingkat elektabilitas cenderung stabil dua digit," ujar Direktur Eksekutif Pol-Tracking Institute Hanta Yuda di Kuningan,Jakarta Selatan, Kamis (19/12).

Sementara itu, Partai Demokrat dan PKS menurun drastis jika dibandingkan dengan perolehan suara pada Pemilu 2009.

"Partai Demokrat menurun drastis dari 20,85 persen pada pemilu 2009 menjadi 8,8 persen, dan PKS dari 7,88 persen di Pemilu 2009 menjadi 2,9 persen," paparnya.

Sedangkan Partai Gerindra menduduki posisi keempat dengan 6,6 persen. Disusul PKB dengan 4,6 persen.

Untuk Partai Hanura sebesar 3,5 persen, NasDem 2,1 persen, PAN 2 persen, PBB 0,7 persen, dan PKPI sebesar 0,1 persen. Survei dilakukan pada 13 September 2013 hingga 11 Oktober 2013. Survei dilakukan secara serempak di 33 provinsi di seluruhIndonesia dengan sampel sebanyak 2010 responden.

Penarikan sampel survei menggunakan metode multi-stage random sampling dengan margin of error sebesar 2,19 persen. Sedangkan pengambilan data melalui wawancara tatap muka dengan kuesioner.

Sabtu, 21 Desember 2013

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Konvensi Capres Demokrat tidak Maksimal


Sebagai partai yang berkuasa di pemerintahan dengan 1/5 kursi, tentu Demokrat adalah partai yang seharusnya sangat diperhitungkan. Namun, kenyataan berkata lain, berbagai kasus korupsi yang melilit partai, konon membuat kepercayaan rakyat terhadap partai biru ini menjadi luntur. Fakta ini terlihat pada pagelaran konvensi Capres yang diselenggarakan oleh Demokrat, ternyata tidak maksimal dalam memberikan awareness kepada masyarakat. Meskipun kita melihat ada satu dua peserta yang rajin sekali muncul di berbagai media, namun bagi Demokrat, para peserta masih tidak maksimal dalam mengambil hati rakyat. Mampukah para peserta konvensi ini maju di Pemilihan Presiden 2014 mendatang? Mari kita tunggu. Sebelumnya, silahkan simak berita yang kami sadur dari Merdeka.com ini.

Peserta konvensi capres Demokrat layu, komite salahkan media


Oleh: Randy Ferdy Firdaus

Merdeka.com - Sejak mendeklarasikan diri pada bulan September lalu, 11 peserta konvensi capres Partai Demokrat tak terlihat maksimal dalam upaya meraih simpati rakyat. Pagelaran konvensi pun seakan layu sebelum berkembang.

Sekretaris Komite Konvensi Demokrat Suaidi Marasabessy pun mengakui jika ada persoalan di internal soal proses konvensi. Menurut dia, pihaknya kesulitan dalam hal menggaet media untuk mendukung pagelaran konvensi.

"Persoalannya kan karena masalah media, karena alat utama kami pasti media, kalau kami melakukan aktivitas tanpa media kan percuma juga, tapi kalau media ikut berperan kan pasti memberikan dampak yang sangat besar," ujar Suaidi saat dihubungi, Jumat (20/12)

Suaidi menjelaskan, komite saat ini sedang mempersiapkan debat kandidat para peserta konvensi. Hal ini akan dilakukan pada Januari 2014 mendatang.

"Konvensi nanti mulai tanggal 6 Januari. Pendalaman pada Januari, dialog dengan media," imbuhnya.

Meskipun mengalami kendala di media, Suaidi menegaskan jika 11 peserta konvensi masih terus berupaya mengambil simpati rakyat dengan cara masing-masing. "Kalau mereka ngotot menang. Buktinya pada turun ke daerah, kalau mereka bersikap pasrah, itu kan bagian dari upaya kami membangun tradisi bahwa kalah menang biasa," pungkasnya.

Kamis, 19 Desember 2013

0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Petinggi Partai Demokrat Galau?


Pada pemilu 2009 lalu, kita semua menjadi saksi akan kedigdayaan partai muda yang semakin melejit: Partai Demokrat. Dengan suara yang sangat dominan, partai Demokrat pun menjadi partai yang memimpin di legislatif dan eksekutif. Partai Demokrat adalah partai yang paling besar di medio 2009-2014 ini.

Namun, seiring berjalannya waktu partai demokrat semakin melemah saja. Berbagai skandal korupsi yang melingkupi kadernya, membuat partai ini semakin negatif di mata masyarakat. Sampai sekarang, elektabilitas partai Demokrat untuk pemilu 2014 terus anjlok menurut berbagai survey. Hal ini tentu menjadi kabar tak mengenakkan bagi partai, sehingga banyak pihak berpendapat bahwa petinggi partai demokrat sedang galau. Simak cerita lengkapnya dari berita yang dirilis oleh Kompas.com.

Elektabilitas Jeblok, Partai Demokrat Galau?

Oleh: Rahmat Fiansyah

AKARTA, KOMPAS.com - Pengamat komunikasi politik dari Universitas Pelita Harapan, Tjipta Lesmana, mengatakan bahwa para petinggi Partai Demokrat saat ini sedang galau. Pasalnya,  Konvensi Calon Presiden Partai Demokrat yang menjadi kartu truf partai gagal meningkatkan elektabilitas partai.

"Sejak konvensi diluncurkan bukannya meningkat, elektabilitas Demokrat malah menurun," katanya di Jakarta, Rabu (18/12/2013).

Menurut Tjipta, selama hampir empat bulan sejak konvensi diluncurkan, konvensi tersebut tidak mendapatkan perhatian dari publik. Dari awal, ia pun mempertanyakan para peserta konvensi yang dinilai memiliki kualitas yang kurang mumpuni. Bahkan, kata Tjipta, beberapa orang yang maju sebagai peserta konvensi diminta oleh Ketua Umum Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono.

"Ini enggak bagus buat demokrasi. Seharusnya yang maju adalah yang merasa mampu bukan disebabkan oleh big boss," ujarnya.

Ia juga menilai dalam beberapa bulan ke depan, tingkat elektabilitas partai pemenang pemilu 2009 akan ditentukan oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Semakin banyak kasus korupsi yang terbongkar, katanya, hal ini menyebabkan elektabilitas Demokrat akan semakin anjlok.

Dalam kesempatan yang sama, koordinator tim peneliti Reform Institute, Yudi Latif mengatakan masyarakat yang memilih Partai Demokrat pada pemilu 2009 telah kehilangan kepercayaannya. Hal ini, katanya, dapat terlihat dari survei yang dilakukan lembaganya yang menempatkan Dahlan Iskan (33,81 persen) dan Irman Gusman (6,47 persen) sebagai pilihan pemilih partai Demokrat terhadap peserta konvensi.

"Ada ketidakpercayaan terhadap orang lingkaran dalam Partai Demokrat, makanya mereka memilih orang luar, seperti Dahlan Iskan dan Irman Gusman. Bahkan, sebannyak 46 persen responden yang memilih Partai Demokrat memutuskan tidak memilih peserta konvensi," tandasnya.
0 Comments
Posted in Arrangement, Art, Business

Golkar Bakal Menangi Pemilu 2014?


Pada pemilu 2009 kemarin, kita melihat Demokrat menjadi pemenang secara meyakinkan dengan angka hampir 20%. Namun seiring dengan semakin merosotnya kinerja mereka selama berkuasa ini, membuat elektabilitas partai itu terus merosot. Hal itu, memunculkan Golkar sebagai kandidat kuat untuk menjadi pemenang dalam pemilu 2014 besok. Setidaknya, itulah hasil survey dari Reform Institute. Untuk selengkapnya, silahkan baca berita yang dilansir oleh viva news ini.

Survei Reform Institute: Partai Golkar Masih Teratas

Oleh: Anggi Kusumadewi, Syahrul Ansyari

VIVAnews – Lembaga Reform Institute menggelar survei nasional untuk memotret elektabilitas partai-partai politik saat ini. Hasilnya, Golkar masih meraih elektabilitas tertinggi disusul PDI Perjuangan. Selisih suara di antara keduanya cukup tipis.

Golkar bertengger di urutan paling atas dengan elektabilitas 20,53 persen. Di bawahnya PDI Perjuangan dengan elektabilitas 20,13 persen. Selanjutnya Partai Gerindra dan Partai Demokrat dengan elektabilitas di kisaran angka 9 persen.

Survei digelar 4-25 November 2013 dengan jumlah sampel 1.500 responden. Pemilihan responden menggunakan metode multistage random sampling, dan wawancara dilakukan secara tatap muka. Margin of error survei ini 3,53 persen pada tingkat kepercayaan 95 persen.

Berikut elektabilitas partai politik menurut survei Reform Institute:

1. Partai Golkar 20,53 persen
2. PDI Perjuangan 20,13 persen
3. Partai Gerindra 9,87 persen
4. Partai Demokrat 9,27 persen
5. Partai Hanura 6,47 persen
6. Partai Nasdem 4,8 persen
7. PKS 4,67 persen
8. PPP 4,53 persen
9. PAN 4,2 persen
10. PKB 4 persen
11. PBB 0,8 persen
12. PKPI 0,07 persen
13. Tidak akan ikut memilih/golput 3 persen
14. Tidak menjawab 7,67 persen

    Blogger news

    Blogroll

    Categories

    Tentang Kami

    Directory berita tentang pemilu legislatif dan pemilihan presiden 2014